Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘haji’

English translation

Prolog: Walaupun gak ada hubungannya antara buah pisang dan buah apel, gue ucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Steve Jobs, pendiri dan mantan CEO Apple Corporation, kemarin Oct 6, 2011. Seorang penemu, visioner, yang mendedikasikan dirinya menciptakan produk untuk orang banyak agar lebih mudah dalam bekerja, mudah dalam bersosialisasi, lebih produktif, dan ramah lingkungan; seperti produk MacBook yang gue pakai dalam membuat tulisan ini…

Dalam perjalan gue menuju Bandar Udara karena harus memberikan sebuah pelatihan manajemen pada perusahaan minyak Nasional di Sumatera Selatan, gue sempatkan mampir ke Seven Eleven untuk membeli kopi cappucino panas dengan flavour Hazelnut kesukaan gue. Saat membayar di kasir, tertata tumpukan pisang di atas nampan persis di sebelah mesin kasir. Baru kali ini gue melihat bahwa Seven Eleven ternyata menjual pisang.

Pisang yang dijual adalah jenis pisang ambon yang lumayan besar, berkulit kuning mulus, sedikit mengkilat, sehingga sempat gue kasih komentar ke pramuniaga yang cukup cantik saat tersenyum, “Mbak, pisangnya baru ‘dipoles’ ya..?” hihihi….

Berbeda dengan pisang yang gue dapati kalau sedang makan di GETRAW (baca: dari kanan), yaitu pisang yang lebih kecil, kulitnya banyak flek, dan berwarna kuning doff. Dengan perbedaan harga lebih mahal Rp.2.000,- secara price/performance, jelas pisang di Seven Eleven lebih menarik.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

English translation

Makam dalam pengertian sehari-hari bagi orang Indonesia adalah tempat peristirahatan terakhir seseorang. Sebuah kuburan. A grave. Padahal “makam” adalah asal kata bahasa Arab maqam yang berarti sebuah tempat berdiri (Kamus Arab-Indonesia Al-Munawwir). Kalau loe pergi naik Haji atau Umrah, loe akan dapatkan sebuah “maqam Ibrahim” yang berjarak sekitar 5 meter dari Ka’bah. Ini bukan kuburan Nabi Ibrahim — nabinya umat Yahudi, Kristen, dan Islam — melainkan tempat berdiri Nabi Ibrahim saat merenovasi Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Adam ratusan tahun sebelumnya.

Makam pada zaman kerajaan Mataram merupakan tempat yang dikeramatkan. Tempat yang diyakini bisa memberi perlindungan maupun keberkahan. Sehingga sampai saat ini masih banyak makam yang diyakini sebagai makam raja-raja Mataram yang tetap dipertahankan. Termasuk mempertahankan kebiasaan meminta perlindungan dan keberkahan kepada makam bagi sebagian orang Indonesia.

Makam Pahlawan Indonesia di Kalibata, juga menjadi agenda protokoler tetap apabila ada kepala negara lain berkunjung. Biasanya berupa penghormatan kepala negara yang berkunjung, kepada para pahlawan yang telah gugur membela Indonesia.

Namun, mungkin hanya di Indonesia, ada sebuah kejadian dimana sebuah makam dipertahankan oleh penduduk sekitar sampai harus mengorbankan 3 nyawa. Ini bisa terjadi karena ada suatu keyakinan kuat untuk mempertahankannya. Apakah keyakinan itu benar atau salah, tergantung darimana cara melihatnya. Gue cuma sedih melihat kenyataan: ada emosi, energi, dan nyawa hilang sia-sia atas sebuah keyakinan yang masih perlu dipertanyakan.

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

online2Sudah beberapa minggu terakhir ini lagu “Online” yang dinyanyikan Saykoji menjadi hits. Lirik lagu ber-genre Rap tersebut mengena sekali, dimana teknologi saat ini sudah memanjakan kita untuk bisa online Internet sepanjang waktu dimana saja kecuali blank spot. Dalam lirik tersebut terdapat kritik sosial mengenai bagaimana waktu kerja terbuang karena hanya dipakai untuk online yang gak puguh. Termasuk kritik buat loe yang sedang baca note gue ini pada jam kerja… hihihi… jangan marah ya… pantun dulu ahh: jeruk nipis tumbuh di halaman… artinya? …Piss Man… hihihi… (baca: Peace Man)

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Pada suatu hari…
“If anyone of you, is not afraid to enter this Cave, please raise your hand”, tantang gue kepada siswa-siswi bule usia SMP dari Jakarta International School (JIS), di depan mulut Goa Sipahang, Leuwiliang, Bogor. Saat itu gue sedang nyambi kerja di sela-sela aktifitas kuliah S1 sekitar awal tahun 1990-an…

Sebagai tour guide leader, gue kerap kali menanyakan hal ini sebelum aktifitas outdoor dilakukan. Pertanyaan menjebak! Loe sendiri kira-kira akan menjawab apa? Mengangkat tangan tanda tidak takut?

Setelah beberapa anak mengangkat tangan, gue pisahkan mereka dengan yang lainnya, sambil menyampaikan bahwa mereka belum siap untuk masuk Goa tersebut. Lho?

Kenapa… bukankah mereka tidak takut? Dalam situasi kebingungan, lalu gue brief mereka: bahwa dalam kegiatan beresiko tinggi seperti masuk Goa ini, kita harus punya sikap takut, sikap yang membuat diri menjadi mawas. Tepatnya sikap was-was. Sikap waspada yang selalu membuat kita terjaga, membuat kita disiplin, membuat kita selalu menjalankan runutan safety procedure. Lesson #1.

Akhirnya, setelah mereka paham, toh gue izinkan juga ikut rombongan untuk masuk Goa.

n1420062707_30296672_4445947

(lebih…)

Read Full Post »