Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘bendera merah putih’

English translation

Pulang ke Jakarta masih dalam kagalauan hati. Gue saat ini berada di gerbong nomor 8 kereta api Senja Utama Yogyakarta – Pasar Senen, Jakarta, dalam perjalanan pulang bersama 5 relawan lainnya. Istirahat tidak tenang karena cabin kereta yang lumayan panas, serta hati yang setengah panas. Hati yang masih tidak terima akan attitude beberapa orang Jakarta.

Lima hari lalu gue tiba di Magelang. Tepatnya Desa Bojong, Kabupaten Mungkid. Lokasi ini berjarak 20 Km dari pusat letusan Merapi. Iya, baru saja seminggu sebelum gue berangkat, pada tanggal 5 November 2010 gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah – Yogyakarta meletus terdahsyat selama 7 dekade terakhir. Letusan ini membuat daerah “aman” di atas 10 Km pada 10 hari sebelumnya berubah drastis menjadi “berbahaya”. Well, sebenarnya “mematikan” adalah kata yang lebih tepat.

Mematikan, karena semua daerah sampai sejauh 15-17 Km ke arah Selatan disapu bersih oleh awan panas gunung Merapi, yang menyebabkan puluhan korban berjatuhan: adalah mereka yang sebelumnya merasa aman karena berada di luar radius 10 Km.

Letusan pada tanggal 5 November 2010 ini — dimana abu vulkaniknya sampai ke kota Bogor, Jawa Barat — yang membuat gue dan teman-teman mengambil inisiatif untuk turun langsung ke kaki Gunung Merapi. Dengan radius daerah berbahaya menjadi 20 Km, otomatis jumlah pengungsi bertambah sacara drastis, karena cakupan daerah berbahaya ikut menjadi semakin luas.

Inisisatif yang dilakukan adalah pembentukan posko relawan independent. Lho?! Kenapa independent? Sebelum letusan terdahsyat 5 November 2010, gunung Merapi mengawali letusan pada tanggal 26 Oktober 2010. Sejak itu, banyak sekali posko pengungsi dibangun oleh LSM, atau partai politik, atau juga organisasi lain. Bendera mereka betebaran pada masing-masing posko pengungsi. Ini yang membuat Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 1 November 2010 membuat perintah keras:

“Sebaiknya semua bendera yang dipasang Merah Putih saja. Kalau bukan bendera Merah Putih, lebih baik bendera itu diturunkan!”

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Hari ini bangsa Indonesia merayakan detik detik proklamasi kemerdekaannya. Iya, tanggal 17 Agutus 64 tahun yang lalu sekitar pukul 10 pagi, beberapa anak bangsa — diantaranya Soekarno dan Hatta — mewakili bangsa Indonesia melakukan pro-claim bahwa Indonesia telah merdeka dari kekuasaan bangsa lain. Suatu tindakan yang berani, heroik, sekaligus nekad, apabila kita membayangkan saat itu Indonesia adalah bangsa yang terjajah.

Bagi kita yang belum berumur 64 tahun, tentu tidak pernah merasakan suasana dijajah oleh bangsa lain. Saat dimana beberapa hak-hak mendasar bangsa kita dirampas oleh bangsa lain: kemerdekaan mendapatkan pendidikan, kemerdekaan bekerja atau menjalankan usaha, dan kemerdekaan mengungkapkan pendapat. Gue gak ngebayangin, gimana gue bisa bebas nulis note seperti ini pada saat dijajah seperti itu… hihihi…

Negara yang merdeka, harus memiliki 3 syarat utama: ada wilayah, ada rakyat, dan ada pemerintahan yang didukung rakyatnya. Setelah itu ada beberapa syarat tambahan, misalkan simbol negara: Kepala Negara, Bendera Negara, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan. Simbol ini, secara politis, lebih kepada mewakili keberadaan suatu negara. Bayangkan apabila salah satu dari simbol negara ini tidak ada, bisa jadi dianggap cacat keberadaannya.

17aug1945Misalkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Pada suasana yang khidmat saat lagu ini dinyanyikan, gue terkadang merinding mendengarnya. Apalagi sambil menyaksikan Bendera Negara Merah Putih dikibarkan secara khidmat pula perlahan naik menuju puncak tiang bendera. Gue meresapinya dalam konteks bahwa 64 tahun yang lalu, menaikkan sebuah bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya — sesaat setelah claim kemerdekaan ketika masih menjadi bangsa terjajah di negerinya sendiri — adalah sebuah perbuatan heroik.

(lebih…)

Read Full Post »