Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘anggota dpr’

English translation

“…loe borju… jangan belagu…
lagak loe tuh… sok tahu…
ini itu… lihat dulu…
kalo belagu… muka loe jauh…”

Di atas adalah cuplikan dari lirik lagu berjudul “Borju”. Lagu ber-genre Rap ini dinyanyikan oleh Neo pada dekade 1990-an. Gue jadi inget lagu ini gara-gara statement yang dilontarkan oleh Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Busyro Muqoddas terhadap perilaku pejabat-pejabat negara, pada Hari Pahlawan, Nov 10, 2011 lalu:

“Yang jelas mereka sangat perlente, mobil dinas Crown Royal Saloon yang jauh lebih mewah dari mobil perdana menteri negeri tetangga. Mereka lebih mencerminkan politisi yang pragmatis-hedonis”.

Mereka yang dimaksud Ketua KPK adalah para pejabat negara yang sehari-harinya berperilaku “borjuis”, selalu memperlihatkan kepada masyarakat penampilan yang berlebih: memakai kendaraan dinas seharga Rp.1,3 Milyar, melakukan rapat dinas di hotel mewah alih-alih di ruang rapat kantornya, dan selalu menjaga jarak dengan dikawal ke manapun mereka pergi.

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Akhir minggu lalu, gue sempatkan ajak istri dan anak2 gue ke museum. Diawali dengan Museum Gajah di Jakarta Pusat, lalu dilanjutkan ke Museum Wayang di Jakarta Utara. Kalo Museum Gajah, gue sudah sering kunjungi, namun untuk Museum Wayang, ini adalah pertama kali. Sst… gue sebenarnya malu mengakui, bahwa saat itu gue baru tahu di Jakarta “ada” Museum Wayang… jiaahh… gakgaul.com… hihihi….

Kejadiannya memang gak disengaja: niat awalnya memang cuma ingin foto session keluarga di depan Museum Fatahillah dan situs Kota Tua, namun hujan dengan bijak menyambut gue sekeluarga begitu tiba di lokasi. Berlarilah gue sekeluarga semua untuk berteduh ke sebuah gedung yang terdekat. Dan gedung itu ternyata adalah Museum Wayang! halaahh….

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Hujan yang turun memaksa gue memutuskan untuk membeli tiket Museum Wayang, lalu menghabiskan waktu menunggu hujan dengan menikmati sajian museum. Ternyata hujan benar-benar bijak. Gue benar-benar menikmati Museum Wayang yang indah, bersih, dan tertata dengan rapih. Gue rekomendasikan loe dan keluarga untuk berkunjung dan ikut menikmati museum ini secara berkala.

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Rabu kemarin malam, 5 Mei 2010, gue menghadiri acara launching solo album dari temen nongkrong gue sewaktu di SMP Negeri 12, Jakarta. Dia adalah seorang pembetot. Bukan, bukan seorang pembelot. Dia adalah salah satu pemain bass guitar terbaik yang pernah gue lihat. Pembetot senar-senar bass untuk menghasilkan alunan frekuensi rendah nan indah, sekaligus membahana nan sedap. Membuat sekitar 100 penonton di Erasmus Huis, Kedutaan Belanda, ikut menggoyang-goyangkan kaki atau kepala dalam lantunan Jazz. Dia adalah Indro Hardjodikoro.

Indro yang gue kenal sewaktu SMP, ternyata tetap sebagai Indro walaupun atribut pemain bass handal sudah melekat. Tetap seperti adanya dalam berpakaian. Tetap santai dalam bertutur kata. Tetap kocak. Well, setelah 25 tahun tidak bertemu, gue dapati ternyata Indro tetap menjadi Indro. [what do you expect huh? he is the Iron Man now? hihihi…]

Kesederhanaan adalah kata yang tepat yang gue pilih buat Indro. Bertahun-tahun gue selalu menemukan dia pada penampilan panggung musik di beberapa stasiun televisi maupun festival musik. Dia tetap konsisten sebagai pemain bass. Dia terus belajar sampai hari ini. Dan yang pasti, dia tetap sederhana. Ini tercermin dari judul solo albumnya “Feels Free” yang asli sederhana.

Itulah kunci sukses Indro. Sama halnya dengan kunci sukses seorang wanita sederhana yang tahun 2008 dinobatkan sebagai “salah satu wanita berpengaruh di dunia”: tutur kata yang santun dan tidak emosi dalam menjawab pertanyaan anggota DPR, sikap tegas kepada konglomerat yang mencoba mengemplang pajak negara sampai triliyunan rupiah, serta selalu konsisten dalam menjalankan reformasi birokrasi pada Kementerian yang Beliau pimpim; semua dilakukan dalam konteks pribadi yang sederhana. Dirinya terjaga dari segala isu, fitnah, black campaign, karena terbungkus oleh kesederhanaannya.

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Tebak. Berapa harga Rolex Limited Edition? Nyerah? Harganya: berkisar 250 juta Rupiah sampai satu milyar Rupiah. Setara dengan mobil dinas menteri dijejer satu, dua, atau mungkin tiga buah. Rolex hanyalah sebuah jam tangan. Sebegitu mahalkah?

Limited Edition bisa berarti sesuatu yang dibuat dengan kualitas jauh di atas rata-rata namun kuantitas terbatas. Akibatnya, harga menjadi mahal. Siapa yang mau membayar mahal produk seperti Rolex? Pasti seseorang yang menghargai suatu nilai mahakarya tinggi: sesuatu yang dibuat dengan presisi yang tinggi, dari bahan berkualitas satu, dan sentuhan artistik kelas wahid.

Apakah itu cuma akal-akalan tim marketing Rolex? Agar perusahaan mendapatkan margin lebih tinggi tanpa menaikkan biaya produksi? Gue pikir gak begitu. Pakem “harga gak bisa bohong” biasanya melekat pada produk Limited Edition seperti Rolex. Lihat aja foto di bawah ini. [Jangan coba pake ini pas naek angkot ya… hihihi…]

a1420062707_30280237_1381142

(lebih…)

Read Full Post »