Feeds:
Pos
Komentar

Prolog: tulisan ini adalah artikel kolom pada Tabloid mingguan KONTAN edisi 2-8 April 2012 halaman 23. Selamat menikmati…

Pecinta sepakbola di Tanah Air pasti masih sulit melupakan kekalahan memalukan yang diderita oleh tim nasional sepakbola Indonesia. Dalam penyisihan Piala Dunia FIFA 2014 akhir Februari lalu, timnas dibantai 10 gol tanpa balas oleh tim nasional Bahrain. Ini adalah kekalahan terbesar tim merah-putih sepanjang sejarah.

Menyaksikan pertandingan sepakbola antara kedua Negara tersebut, pasti kita terusik dengan sebuah pertanyaan: kenapa Bahrain bisa mencetak sebanyak 10 gol ke gawang Indonesia? Pertanyaan ini bukan bermaksud menyindir, bila kita berasumsi bahwa pemain Bahrain memang lebih mahir bermain di lapangan rumput. Namun pertanyaan berikut akan lebih menggugah penasaran kita: kenapa Indonesia tidak mencetak gol sama sekali ke gawang Bahrain?

Di satu sisi, hasil akhir pertandingan antara Indonesia dengan kesebelasan sepakbola asal Timur Tengah itu memang membuat kita semua tercengang. Namun, ketimbang terus-menerus mencerca, alangkah baiknya jika kita juga mencerna penyebab kejadian yang memalukan itu.

Lanjut Baca »

Lapas

Pagi ini gue masuk Lapas. Iya, Lapas atau penjara atau rumah tahanan adalah singkatan dari Lembaga Pemasyarakatan. Tempat beberapa masyarakat yang berkumpul di balik tembok tinggi, pagar berduri, dan terali besi — dikarenakan mereka melanggar kode etik KUHP masyarakat yang berlaku. Namun kali ini bukan gue yang melanggar kode etik tersebut, melainkan sepupu gue yang terjebak dan akhirnya diputuskan sudah melanggar. Sebuah keputusan pengadilan untuk mendekam di Lapas Cipinang selama 5 tahun. Apakah keputusan itu adil? Tidak ada yang pernah tahu….

Sepupu gue yang masih berusia 25 tahun itu, adalah pemuda yang polos, anak bontot, seorang anak yatim yang ditinggal ayahnya saat usia SD. Dalam kepolosannya tersebut, seorang pengedar wanita meminta dia untuk mengantarkan sebuah barang, dan polisi menangkap tangan dia dengan barang bukti narkoba. Ternyata itu adalah deal si wanita dengan polisi, untuk menangkap 2 kurir barang, agar wanita itu bisa bebas sebagai bandar narkoba. Whatever. Nasi telah menjadi bubur….

Hari ini adalah pengalaman gue pertama berkunjung ke Lapas. Diawali dengan masuk ruang pendaftaran, mengambil nomor urut, mengisi formulir kunjungan, lalu duduk di ruang tunggu sampai nomor urutnya dipanggil. Selama menunggu, gue mengamati para pengunjung lain: ternyata mereka sudah saling kenal, akrab, saling sapa, sehingga gue simpulkan bahwa mereka rutin berkunjung ke Lapas di setiap akhir minggu. Well, a small weekly reunion….

Lanjut Baca »

English translation

Prolog: tulisan ini adalah artikel kolom pada Tabloid mingguan KONTAN edisi 20-25 Februari 2012 halaman 23. Selamat menikmati…

Meski sudah beberapa bulan meninggal dunia, ada banyak kiat manajemen atau pelajaran yang bisa dipetik dari seorang Steve Jobs. Saat pengukuhan kelulusan para mahasiswa angkatan tahun 2005 Universitas Stanford di Amerika Serikat, bekas CEO Apple Inc. ini menyampaikan sebuah pidato.

“Tetaplah lapar, tetaplah bodoh. Saya selalu berharap hal yang demikian untuk saya. Sebagai lulusan untuk memulai sesuatu yang baru, saya berharap hal yang sama untuk Anda,” kata Jobs dalam secuplik pidatonya

Jobs tentu bukan bermaksud menyindir para siswa yang lulus dari sekolah bergengsi Standford, karena semua orang tahu dia mahasiswa drop-out namun bisa menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Pidato itu memang apa adanya dan menjadi pegangan Jobs selama ini.

Dalam biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson tahun 2011, terungkap bahwa Jobs adalah seorang vegetarian. Lebih tepatnya ekstrem vegetarian. Dia mengikuti ajaran Zen Buddha dan pernah menetap di India selama 7 bulan untuk belajar ajaran ini. Nah, saking percayanya atas aliran vegetarian, Jobs menganggap tubuhnya tidak akan mengeluarkan keringat berbau. Sehingga pada tahun-tahun awal saat mendirikan Apple, dia hanya mandi satu kali selama seminggu.

Lanjut Baca »

Kanibal

English translation

Mendengar kata “kanibal”, mungkin bulu kuduk loe akan berdiri. Memang persepsi umum kata kanibal cukup horror, yaitu memakan darah-daging spesies sendiri atau teman sendiri atau komunitas sendiri… hiiii…. Tapi note ini tidak akan bercerita tentang horror, melainkan lebih mengenai perkembangan teknologi.

Masih ingat saat Apple mengeluarkan produk iPad di tahun 2010? Banyak business analyst saat itu memprediksi bahwa iPad akan meng-kanibal-kan penjualan produk Apple yang lain semisal MacBook. Statistik selama satu tahun setelah peluncuran iPad memang menunjukkan penurunan penjualan MacBook, namun ternyata tidak sampai membuat MacBook benar-benar mati. Sekarat pun tidak.

Produk pemutar musik Apple iPod yang membuat penjualan produk Sony Walkman mati, adalah salah satu best practice sebuah kejadian kanibal: pemutar musik analog (Walkman) di-kanibal oleh pemutar musik digital (iPod).

Dalam fotografi, ternyata teknologi film analog juga telah berhasil di-kanibal oleh teknologi film digital fotografi. Proses perjalanan kanibal ini gue alami sendiri karena memang salah satu hobby gue adalah fotografi.

Lanjut Baca »

Ja’im

English translation

“Ja’im” adalah salah satu kosa kata gaul yang merupakan singkatan dari “jaga image” atau selalu berusaha menjaga penampilan agar tampak berwibawa. Biasanya orang yang ja’im menggunakan media lain yang dipercaya bisa mengangkat wibawanya, semisal berpakaian mewah, berkendaraan mewah, bahkan sampai memakai pengawal kemanapun berpergian.

Ja’im dengan bermodalkan barang mewah, bagi peneliti psychology, justru dikategorikan sebagai sikap kurang percaya diri. Sehingga orang-orang seperti itu perlu “additive” kemewahan agar tampak lebih berwibawa.

Tapi ada juga tipe ja’im yang lain: inilah ja’im yang sejati, yaitu dengan mengandalkan sikap, perilaku, dan attitude; alih-alih mengandalkan kemewahan. Lihatlah mereka ini:

Michael Bloomberg — konglomerat pemilik siaran berita keuangan Bloomberg — adalah Walikota New York saat note ini gue tulis. Kekayaan dia tahun 2011 mencapai 19,5 Billion Dollar Amerika atau setara dengan Rp.177 Trilliun, Wow! Duit semua tuh?! Hihihi….

Lanjut Baca »

Borju

English translation

“…loe borju… jangan belagu…
lagak loe tuh… sok tahu…
ini itu… lihat dulu…
kalo belagu… muka loe jauh…”

Di atas adalah cuplikan dari lirik lagu berjudul “Borju”. Lagu ber-genre Rap ini dinyanyikan oleh Neo pada dekade 1990-an. Gue jadi inget lagu ini gara-gara statement yang dilontarkan oleh Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Busyro Muqoddas terhadap perilaku pejabat-pejabat negara, pada Hari Pahlawan, Nov 10, 2011 lalu:

“Yang jelas mereka sangat perlente, mobil dinas Crown Royal Saloon yang jauh lebih mewah dari mobil perdana menteri negeri tetangga. Mereka lebih mencerminkan politisi yang pragmatis-hedonis”.

Mereka yang dimaksud Ketua KPK adalah para pejabat negara yang sehari-harinya berperilaku “borjuis”, selalu memperlihatkan kepada masyarakat penampilan yang berlebih: memakai kendaraan dinas seharga Rp.1,3 Milyar, melakukan rapat dinas di hotel mewah alih-alih di ruang rapat kantornya, dan selalu menjaga jarak dengan dikawal ke manapun mereka pergi.

Lanjut Baca »

Pisang

English translation

Prolog: Walaupun gak ada hubungannya antara buah pisang dan buah apel, gue ucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Steve Jobs, pendiri dan mantan CEO Apple Corporation, kemarin Oct 6, 2011. Seorang penemu, visioner, yang mendedikasikan dirinya menciptakan produk untuk orang banyak agar lebih mudah dalam bekerja, mudah dalam bersosialisasi, lebih produktif, dan ramah lingkungan; seperti produk MacBook yang gue pakai dalam membuat tulisan ini…

Dalam perjalan gue menuju Bandar Udara karena harus memberikan sebuah pelatihan manajemen pada perusahaan minyak Nasional di Sumatera Selatan, gue sempatkan mampir ke Seven Eleven untuk membeli kopi cappucino panas dengan flavour Hazelnut kesukaan gue. Saat membayar di kasir, tertata tumpukan pisang di atas nampan persis di sebelah mesin kasir. Baru kali ini gue melihat bahwa Seven Eleven ternyata menjual pisang.

Pisang yang dijual adalah jenis pisang ambon yang lumayan besar, berkulit kuning mulus, sedikit mengkilat, sehingga sempat gue kasih komentar ke pramuniaga yang cukup cantik saat tersenyum, “Mbak, pisangnya baru ‘dipoles’ ya..?” hihihi….

Berbeda dengan pisang yang gue dapati kalau sedang makan di GETRAW (baca: dari kanan), yaitu pisang yang lebih kecil, kulitnya banyak flek, dan berwarna kuning doff. Dengan perbedaan harga lebih mahal Rp.2.000,- secara price/performance, jelas pisang di Seven Eleven lebih menarik.

Lanjut Baca »