Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Politik, Parlemen, dan Pemerintahan’ Category

Gue marah sore ini. Gimana gak marah. Sebelumnya gue harus jalan kaki sejauh 100 meter untuk menemukan tukang ojek lalu berjibaku di tengah macet selama 10 menit sampai akhirnya mendarat di parkiran kampus. Sore ini memang jadwal kasih kuliah Strategic Performance Management, namun sore ini giliran mahasiswa-mahasiswa gue yang perform di depan kelas. Iya, mereka harus presentasi group assignment tentang studi kasus sebuah bisnis yang menjalankan Balanced Score Card, yang sudah gue tugaskan dari 2 minggu lalu.

Gue pantas untuk marah. Gimana gak marah. Sebelum mahasiswa pada masuk, gue persiapkan LCD proyektor buat presentasi, menghidupkan MacBook gue untuk menilai presentasi mereka, lalu menunggu kebiasaan telat mereka selama 15 menit. Dan klimaksnya, adalah saat salah satu dari mereka menyampaikan,

“Pak, terus terang, kami semua belum tuntas mempersiapkan presentasi hari ini”….

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Prolog: Tulisan ini pernah dimuat di tabloid manajemen mingguan KONTAN edisi 9-15 Juli 2012 halaman 23 dalam rangka Putaran ke-1 PILKADA DKI, namun masih relevan dalam Putaran ke-2 PILKADA DKI minggu ini. Selamat menikmati…

Rabu (11/7), warga Kota Jakarta akan memilih seseorang yang akan diberi amanah untuk mengatur administrasi dan pemerintahan ibukota. Jabatan yang akan disematkan adalah Gubernur Jakarta. Ini bukan jabatan main-main, karena ibukota bernilai strategis sebagai salah satu simbol negara yang melengkapi simbol lain yaitu pemimpin negara, bendera negara, dan lagu kebangsaan.

Ibukota negara menjadi pintu gerbang hubungan dengan negara lain. Semua duta besar dan perwakilan negara lain tinggal dan bekerja di kantor kedutaan yang ada di Jakarta. Hubungan perdagangan antarnegara, biasa bermula melewati pintu gerbang Ibukota sebelum menuju ke kota-kota tujuan perdagangan.

Seberapa sulit mengatur Jakarta? Pertanyaan ini menjebak karena jawabannya mudah ditebak: memang sangat sulit! Kota Jakarta sudah berumur lebih dari 400 tahun dan kini terus bertumbuh dan meluas. Mulai dari sebuah kota pelabuhan di sisi Utara, lalu bertumbuh ke Selatan, sekaligus melebar ke Timur dan Barat. Pertumbuhan secara alami ini menyebabkan tata ruang kota seakan tambal-sulam, tumpang-tindih, atau karut-marut.

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

“Ja’im” adalah salah satu kosa kata gaul yang merupakan singkatan dari “jaga image” atau selalu berusaha menjaga penampilan agar tampak berwibawa. Biasanya orang yang ja’im menggunakan media lain yang dipercaya bisa mengangkat wibawanya, semisal berpakaian mewah, berkendaraan mewah, bahkan sampai memakai pengawal kemanapun berpergian.

Ja’im dengan bermodalkan barang mewah, bagi peneliti psychology, justru dikategorikan sebagai sikap kurang percaya diri. Sehingga orang-orang seperti itu perlu “additive” kemewahan agar tampak lebih berwibawa.

Tapi ada juga tipe ja’im yang lain: inilah ja’im yang sejati, yaitu dengan mengandalkan sikap, perilaku, dan attitude; alih-alih mengandalkan kemewahan. Lihatlah mereka ini:

Michael Bloomberg — konglomerat pemilik siaran berita keuangan Bloomberg — adalah Walikota New York saat note ini gue tulis. Kekayaan dia tahun 2011 mencapai 19,5 Billion Dollar Amerika atau setara dengan Rp.177 Trilliun, Wow! Duit semua tuh?! Hihihi….

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

“…loe borju… jangan belagu…
lagak loe tuh… sok tahu…
ini itu… lihat dulu…
kalo belagu… muka loe jauh…”

Di atas adalah cuplikan dari lirik lagu berjudul “Borju”. Lagu ber-genre Rap ini dinyanyikan oleh Neo pada dekade 1990-an. Gue jadi inget lagu ini gara-gara statement yang dilontarkan oleh Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Busyro Muqoddas terhadap perilaku pejabat-pejabat negara, pada Hari Pahlawan, Nov 10, 2011 lalu:

“Yang jelas mereka sangat perlente, mobil dinas Crown Royal Saloon yang jauh lebih mewah dari mobil perdana menteri negeri tetangga. Mereka lebih mencerminkan politisi yang pragmatis-hedonis”.

Mereka yang dimaksud Ketua KPK adalah para pejabat negara yang sehari-harinya berperilaku “borjuis”, selalu memperlihatkan kepada masyarakat penampilan yang berlebih: memakai kendaraan dinas seharga Rp.1,3 Milyar, melakukan rapat dinas di hotel mewah alih-alih di ruang rapat kantornya, dan selalu menjaga jarak dengan dikawal ke manapun mereka pergi.

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Beberapa hari terakhir ini ada sebuah advertisement di televisi yang cukup menggelitik. Adalah ad dari salah satu telecommunication provider tentang seseorang bernama Joni. Pada satu scene flashback, Joni kecil bertemu seorang bapak yang bijak, yang mengingatkan, “Joni, mulai sekarang kamu harus selalu berkata jujur”. Dengan muka polos, Joni menjawab sambil menunjuk ke arah hidung bapak tadi, “Pak, ada upil…”

Jangankan gue, anak-anak gue aja pasti ketawa kalau liat ad ini. Dan menjadi senjata ice breaking gue saat bila salah satu mereka sedang ngambek, yang langsung berubah ketawa saat diucapkan kalimat yang sama sambil mencolek hidungnya.

Sebenarnya, scene ad tersebut di atas memiliki banyak hikmah. Paling tidak ada 2 yang bisa gue identifikasi….

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Dia kesayangan gue. Dia sudah menemani gue lebih dari 20 tahun. Dia ada dikala senang. Dia ada dikala susah. Dia ada di samping gue sampai sekarang. Dia adalah Vicky….

Don’t get me wrong. Vicky adalah panggilan sayang buat pisau lipat serbaguna Victorinox milik gue. Awalnya Vicky tergeletak di rak kaca toko buku Gramedia, Blok M. Tidak jauh dari SMA Negeri 6 Jakarta tempat gue sekolah dulu. Iya, Vicky gue beli saat gue duduk di kelas 2 SMA. Berbulan-bulan menabung untuk menebus pisau seharga Rp.200.000,-an. Harga yang lumayan mahal mengingat saat itu ongkos naik bis masih Rp.100,- (sekarang Rp.2.000,-) dan harga semangkok mie ayam pangsit masih Rp.350,- (sekarang Rp.9.000,-).

Vicky pun pernah ketangkap basah dan “masuk penjara”. Awal tahun 1990an, saat hendak naik gunung Gede lewat Cibodas, Jawa Barat, Vicky ditahan di Pos Pemeriksaan. Memang ada peraturan bagi pendaki yang masuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango untuk tidak boleh membawa pisau. Poor Vicky

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Ucapan di atas terlontar dari Muammar Khadafi dalam sebuah pidato hari Selasa 22 Februari 2011 ini. Siapa seh dia?

Khadafi adalah seorang Kolonel angkatan bersenjata yang 42 tahun lalu melakukan coup d’état ke kerajaan Libya lalu menjadikan dirinya pemimpin pemerintahan negara Libya. Pada saat itu sang Kolonel masih berumur 27 tahun. Relatif masih muda untuk memimpin sebuah negara, bahkan untuk pangkat setingkat Kolonel…

Gue jadi ingat sebuah joke teka-teki: Negara mana yang tidak mempunyai Jenderal? Jawabannya adalah Libya, karena negara tersebut pemimpinnya berpangkat Kolonel, jadi tidak ada pangkat lain lagi di atasnya… hihihi….

Khadafi mengucapkan kalimat tersebut dalam kondisi terdesak oleh rakyatnya yang menuntut untuk mundur sebagai pemimpin. Berkuasa selama 42 tahun membuat Khadafi menganggap bahwa negara seutuhnya adalah property pribadi: “Ini Negara Saya!”. Hmm… Really..?

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »