Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Prolog: Setiap tanggal 31 Desember gue selalu teringat akan kenangan yang ternyata selalu memberi banyak hikmah selama 20 tahun belakangan ini. Iya, setelah 20 tahun kemudian akhirnya gue ingin berbagi atas kenangan tersebut kepada loe semua. Semoga bermanfaat….

Minggu terakhir Desember 1992 adalah waktu liburan setelah beberapa minggu sebelumnya gue menyelesaikan Final Test Semester 9 kuliah gue. Semester terakhir kuliah gue di Jurusan Tehnik Elektro Universitas Trisakti. Tepatnya adalah liburan dari perjalanan panjang perkuliahan selama 4,5 tahun.

Gue ingin isi liburan ini dengan suatu petualangan yang eksotis, suatu yang berkesan di masa akhir menjadi mahasiswa, dan tentu suatu yang harus memberikan pelajaran tentang hidup untuk menuju ke fase hidup berikutnya….

Suatu yang terlintas dalam rencana gue saat itu adalah: gue ingin lakukan banyak hal sesuai hobby-hobby gue, dalam satu liburan yang sama. Lokasi gue putuskan di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dimana salah satu teman kampus gua adalah berasal dari Kota Mataram, Lombok, dan butuh teman karena akan pulang membawa mobil. Rundown aktifitas gue rencanakan adalah sepedahan, menyelam, naik gunung, dan hunting foto. Rencana boleh rencana, ternyata yang gue dapati adalah lebih dari rencana petualangan…

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Gue marah sore ini. Gimana gak marah. Sebelumnya gue harus jalan kaki sejauh 100 meter untuk menemukan tukang ojek lalu berjibaku di tengah macet selama 10 menit sampai akhirnya mendarat di parkiran kampus. Sore ini memang jadwal kasih kuliah Strategic Performance Management, namun sore ini giliran mahasiswa-mahasiswa gue yang perform di depan kelas. Iya, mereka harus presentasi group assignment tentang studi kasus sebuah bisnis yang menjalankan Balanced Score Card, yang sudah gue tugaskan dari 2 minggu lalu.

Gue pantas untuk marah. Gimana gak marah. Sebelum mahasiswa pada masuk, gue persiapkan LCD proyektor buat presentasi, menghidupkan MacBook gue untuk menilai presentasi mereka, lalu menunggu kebiasaan telat mereka selama 15 menit. Dan klimaksnya, adalah saat salah satu dari mereka menyampaikan,

“Pak, terus terang, kami semua belum tuntas mempersiapkan presentasi hari ini”….

(lebih…)

Read Full Post »

Pagi ini gue masuk Lapas. Iya, Lapas atau penjara atau rumah tahanan adalah singkatan dari Lembaga Pemasyarakatan. Tempat beberapa masyarakat yang berkumpul di balik tembok tinggi, pagar berduri, dan terali besi — dikarenakan mereka melanggar kode etik KUHP masyarakat yang berlaku. Namun kali ini bukan gue yang melanggar kode etik tersebut, melainkan sepupu gue yang terjebak dan akhirnya diputuskan sudah melanggar. Sebuah keputusan pengadilan untuk mendekam di Lapas Cipinang selama 5 tahun. Apakah keputusan itu adil? Tidak ada yang pernah tahu….

Sepupu gue yang masih berusia 25 tahun itu, adalah pemuda yang polos, anak bontot, seorang anak yatim yang ditinggal ayahnya saat usia SD. Dalam kepolosannya tersebut, seorang pengedar wanita meminta dia untuk mengantarkan sebuah barang, dan polisi menangkap tangan dia dengan barang bukti narkoba. Ternyata itu adalah deal si wanita dengan polisi, untuk menangkap 2 kurir barang, agar wanita itu bisa bebas sebagai bandar narkoba. Whatever. Nasi telah menjadi bubur….

Hari ini adalah pengalaman gue pertama berkunjung ke Lapas. Diawali dengan masuk ruang pendaftaran, mengambil nomor urut, mengisi formulir kunjungan, lalu duduk di ruang tunggu sampai nomor urutnya dipanggil. Selama menunggu, gue mengamati para pengunjung lain: ternyata mereka sudah saling kenal, akrab, saling sapa, sehingga gue simpulkan bahwa mereka rutin berkunjung ke Lapas di setiap akhir minggu. Well, a small weekly reunion….

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Prolog: tulisan ini adalah artikel kolom pada Tabloid mingguan KONTAN edisi 20-25 Februari 2012 halaman 23. Selamat menikmati…

Meski sudah beberapa bulan meninggal dunia, ada banyak kiat manajemen atau pelajaran yang bisa dipetik dari seorang Steve Jobs. Saat pengukuhan kelulusan para mahasiswa angkatan tahun 2005 Universitas Stanford di Amerika Serikat, bekas CEO Apple Inc. ini menyampaikan sebuah pidato.

“Tetaplah lapar, tetaplah bodoh. Saya selalu berharap hal yang demikian untuk saya. Sebagai lulusan untuk memulai sesuatu yang baru, saya berharap hal yang sama untuk Anda,” kata Jobs dalam secuplik pidatonya

Jobs tentu bukan bermaksud menyindir para siswa yang lulus dari sekolah bergengsi Standford, karena semua orang tahu dia mahasiswa drop-out namun bisa menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Pidato itu memang apa adanya dan menjadi pegangan Jobs selama ini.

Dalam biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson tahun 2011, terungkap bahwa Jobs adalah seorang vegetarian. Lebih tepatnya ekstrem vegetarian. Dia mengikuti ajaran Zen Buddha dan pernah menetap di India selama 7 bulan untuk belajar ajaran ini. Nah, saking percayanya atas aliran vegetarian, Jobs menganggap tubuhnya tidak akan mengeluarkan keringat berbau. Sehingga pada tahun-tahun awal saat mendirikan Apple, dia hanya mandi satu kali selama seminggu.

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

“Ja’im” adalah salah satu kosa kata gaul yang merupakan singkatan dari “jaga image” atau selalu berusaha menjaga penampilan agar tampak berwibawa. Biasanya orang yang ja’im menggunakan media lain yang dipercaya bisa mengangkat wibawanya, semisal berpakaian mewah, berkendaraan mewah, bahkan sampai memakai pengawal kemanapun berpergian.

Ja’im dengan bermodalkan barang mewah, bagi peneliti psychology, justru dikategorikan sebagai sikap kurang percaya diri. Sehingga orang-orang seperti itu perlu “additive” kemewahan agar tampak lebih berwibawa.

Tapi ada juga tipe ja’im yang lain: inilah ja’im yang sejati, yaitu dengan mengandalkan sikap, perilaku, dan attitude; alih-alih mengandalkan kemewahan. Lihatlah mereka ini:

Michael Bloomberg — konglomerat pemilik siaran berita keuangan Bloomberg — adalah Walikota New York saat note ini gue tulis. Kekayaan dia tahun 2011 mencapai 19,5 Billion Dollar Amerika atau setara dengan Rp.177 Trilliun, Wow! Duit semua tuh?! Hihihi….

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

“…loe borju… jangan belagu…
lagak loe tuh… sok tahu…
ini itu… lihat dulu…
kalo belagu… muka loe jauh…”

Di atas adalah cuplikan dari lirik lagu berjudul “Borju”. Lagu ber-genre Rap ini dinyanyikan oleh Neo pada dekade 1990-an. Gue jadi inget lagu ini gara-gara statement yang dilontarkan oleh Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Busyro Muqoddas terhadap perilaku pejabat-pejabat negara, pada Hari Pahlawan, Nov 10, 2011 lalu:

“Yang jelas mereka sangat perlente, mobil dinas Crown Royal Saloon yang jauh lebih mewah dari mobil perdana menteri negeri tetangga. Mereka lebih mencerminkan politisi yang pragmatis-hedonis”.

Mereka yang dimaksud Ketua KPK adalah para pejabat negara yang sehari-harinya berperilaku “borjuis”, selalu memperlihatkan kepada masyarakat penampilan yang berlebih: memakai kendaraan dinas seharga Rp.1,3 Milyar, melakukan rapat dinas di hotel mewah alih-alih di ruang rapat kantornya, dan selalu menjaga jarak dengan dikawal ke manapun mereka pergi.

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Prolog: Walaupun gak ada hubungannya antara buah pisang dan buah apel, gue ucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Steve Jobs, pendiri dan mantan CEO Apple Corporation, kemarin Oct 6, 2011. Seorang penemu, visioner, yang mendedikasikan dirinya menciptakan produk untuk orang banyak agar lebih mudah dalam bekerja, mudah dalam bersosialisasi, lebih produktif, dan ramah lingkungan; seperti produk MacBook yang gue pakai dalam membuat tulisan ini…

Dalam perjalan gue menuju Bandar Udara karena harus memberikan sebuah pelatihan manajemen pada perusahaan minyak Nasional di Sumatera Selatan, gue sempatkan mampir ke Seven Eleven untuk membeli kopi cappucino panas dengan flavour Hazelnut kesukaan gue. Saat membayar di kasir, tertata tumpukan pisang di atas nampan persis di sebelah mesin kasir. Baru kali ini gue melihat bahwa Seven Eleven ternyata menjual pisang.

Pisang yang dijual adalah jenis pisang ambon yang lumayan besar, berkulit kuning mulus, sedikit mengkilat, sehingga sempat gue kasih komentar ke pramuniaga yang cukup cantik saat tersenyum, “Mbak, pisangnya baru ‘dipoles’ ya..?” hihihi….

Berbeda dengan pisang yang gue dapati kalau sedang makan di GETRAW (baca: dari kanan), yaitu pisang yang lebih kecil, kulitnya banyak flek, dan berwarna kuning doff. Dengan perbedaan harga lebih mahal Rp.2.000,- secara price/performance, jelas pisang di Seven Eleven lebih menarik.

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »