Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Bencana Alam’ Category

Prolog: pada saat banjir menerjang Jakarta-Bekasi tanggal 18 Januari 2013, ternyata banyak sekali cerita behind the scene dari operasi evakuasi penduduk yang rumahnya terendam air. Berikut adalah diantaranya saat evakuasi di Pondok Gede, hasil copy paste status Facebook gue tanggal 18 Januari 2013. Please enjoy reading… cheers…

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

English translation

Dia kesayangan gue. Dia sudah menemani gue lebih dari 20 tahun. Dia ada dikala senang. Dia ada dikala susah. Dia ada di samping gue sampai sekarang. Dia adalah Vicky….

Don’t get me wrong. Vicky adalah panggilan sayang buat pisau lipat serbaguna Victorinox milik gue. Awalnya Vicky tergeletak di rak kaca toko buku Gramedia, Blok M. Tidak jauh dari SMA Negeri 6 Jakarta tempat gue sekolah dulu. Iya, Vicky gue beli saat gue duduk di kelas 2 SMA. Berbulan-bulan menabung untuk menebus pisau seharga Rp.200.000,-an. Harga yang lumayan mahal mengingat saat itu ongkos naik bis masih Rp.100,- (sekarang Rp.2.000,-) dan harga semangkok mie ayam pangsit masih Rp.350,- (sekarang Rp.9.000,-).

Vicky pun pernah ketangkap basah dan “masuk penjara”. Awal tahun 1990an, saat hendak naik gunung Gede lewat Cibodas, Jawa Barat, Vicky ditahan di Pos Pemeriksaan. Memang ada peraturan bagi pendaki yang masuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango untuk tidak boleh membawa pisau. Poor Vicky

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Tepat seminggu lalu dari saat note ini gue tulis, 11 Maret 2011, terjadi gempa yang dahsyat skalanya di Negara Jepang. Gempa dasar laut dengan kekuatan 8,9 skala Richter ini tidak saja menggoncang negara yang sarat dengan teknologi tinggi, namun juga menggoncang permukaan laut sekitar, untuk selanjutnya mendistribusikan kekuatan goncangan tersebut dalam bentuk gelombang tsunami. Sebuah gelombang ombak yang sama dahsyatnya dengan kuatnya gempa yang mendarat di pantai-pantai kota Sendai, Jepang dalam hitungan menit. Selanjutnya, gelombang tsunami juga merambah ke negara-negara lain termasuk sisi Utara kepulauan Indonesia bagian Timur dalam hitungan 6 jam. Apa seh tsunami?

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

“Insya Allah saya bisa ikhlas mas…”, getar suara Ika dengan mata berkaca-kaca. Dia dan gue sedang berdiri di depan rumahnya yang sudah luluh lantak. Dan gebleknya, sebelumnya gue menanyakan pertanyaan yang gak lebih dari sebuah pertanyaan geblek: “…gimana perasaan kamu, Ka..?”

Gue dan teman-teman relawan pagi ini sedang berada di Srunen. Sebuah desa di kaki Gunung Merapi. Desa yang terletak di atas punggungan bukit dan bersebelahan dengan lembah kali Gendol yang merupakan jalur utama aliran lava Merapi. Tapi meletusnya Merapi sebulan lalu berbeda: Srunen dihempas awan panas yang melaju turun di atas bukit, bukannya melewati jalur lembah.

Ika adalah seorang guru kelas 5 SD Negeri di Jogjakarta, yang juga sedang kuliah S1 jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) di kota tersebut. Dia asli penduduk Srunen: lahir, besar, dan bersekolah dasar di sana. Rumah yang sudah hancur jelas memiliki kenangan yang lekat. Yang membedakan tentang dia adalah, Ika mengambil option untuk menjadi “relawan” alih-alih “pengungsi”….

Saat Merapi mulai aktif meletus tanggal 26 Oktober 2010, Ika pulang ke Srunen dan bersama relawan lain “menggiring” penduduk Srunen untuk turun ke desa yang lebih aman di bawahnya. Inisiatif ini berbuah hasil, karena letusan dahsyat tanggal 5 November 2010 ternyata benar-benar menghancurkan desa Srunen. Kick the village out of the map..!

Pertemuan gue dengan gadis berjilbab itu pun baru terjadi kemarin sore. Sebelumnya, saat berada di gudang posko relawan dan sedang mengeluarkan berkarung-karung sumbangan, sebuah nomor noname masuk lewat SMS memohon bantuan sumbangan. Rupanya, teman gue tim relawan yang sudah balik ke Jakarta memberikan nomor mobile gue. Teman gue tersebut tahu jadwal weekend gue plus cuti “hari kejepit” Senin kemarin — karena hari ini hari libur Tahun Baru Hijriah — yaitu: berada di Jogjakarta untuk menyalurkan sisa sumbangan yang datang ke gudang posko relawan dua minggu lalu. SMS itulah dari Ika, seorang relawan posko pengungsi Srunen.

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Pulang ke Jakarta masih dalam kagalauan hati. Gue saat ini berada di gerbong nomor 8 kereta api Senja Utama Yogyakarta – Pasar Senen, Jakarta, dalam perjalanan pulang bersama 5 relawan lainnya. Istirahat tidak tenang karena cabin kereta yang lumayan panas, serta hati yang setengah panas. Hati yang masih tidak terima akan attitude beberapa orang Jakarta.

Lima hari lalu gue tiba di Magelang. Tepatnya Desa Bojong, Kabupaten Mungkid. Lokasi ini berjarak 20 Km dari pusat letusan Merapi. Iya, baru saja seminggu sebelum gue berangkat, pada tanggal 5 November 2010 gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah – Yogyakarta meletus terdahsyat selama 7 dekade terakhir. Letusan ini membuat daerah “aman” di atas 10 Km pada 10 hari sebelumnya berubah drastis menjadi “berbahaya”. Well, sebenarnya “mematikan” adalah kata yang lebih tepat.

Mematikan, karena semua daerah sampai sejauh 15-17 Km ke arah Selatan disapu bersih oleh awan panas gunung Merapi, yang menyebabkan puluhan korban berjatuhan: adalah mereka yang sebelumnya merasa aman karena berada di luar radius 10 Km.

Letusan pada tanggal 5 November 2010 ini — dimana abu vulkaniknya sampai ke kota Bogor, Jawa Barat — yang membuat gue dan teman-teman mengambil inisiatif untuk turun langsung ke kaki Gunung Merapi. Dengan radius daerah berbahaya menjadi 20 Km, otomatis jumlah pengungsi bertambah sacara drastis, karena cakupan daerah berbahaya ikut menjadi semakin luas.

Inisisatif yang dilakukan adalah pembentukan posko relawan independent. Lho?! Kenapa independent? Sebelum letusan terdahsyat 5 November 2010, gunung Merapi mengawali letusan pada tanggal 26 Oktober 2010. Sejak itu, banyak sekali posko pengungsi dibangun oleh LSM, atau partai politik, atau juga organisasi lain. Bendera mereka betebaran pada masing-masing posko pengungsi. Ini yang membuat Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 1 November 2010 membuat perintah keras:

“Sebaiknya semua bendera yang dipasang Merah Putih saja. Kalau bukan bendera Merah Putih, lebih baik bendera itu diturunkan!”

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Berapa seh nomor sepatu loe? 38, 40, atau 42? Kalo ukuran baju loe? Lebar (L), Muat (M), atau Sempit (S)? hihihi… Juga berapa tinggi loe, berat loe, gaji loe, atau mungkin… istri loe? oops

Pada diri kita, dan juga lingkungan sekitar kita, semuanya pasti memiliki atribut dan ukuran. Begitulah cara manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Segala tindakan — baik aksi maupun re-aksi — semua dilakukan atas dasar suatu yang terukur, dilaksanakan dengan terukur, dan berharap sebuah hasil yang juga terukur.

Pada sebuah mata kuliah The Strategic Performance Management System, di hari pertama menit pertama perkuliahan semester, gue minta semua mahasiswa gue untuk maju satu persatu menceritakan tentang profile diri mereka masing-masing. Semua harus dalam bahasa Inggris.

Bukannya gue sok bule, tapi gue harus mencetak mahasiswa Indonesia untuk siap tampil “Go Global“. Itu tolak ukur pertama gue buat mereka. Selain itu, cara mereka melakukan speech di depan kelas, juga harus terukur: mana yang sudah baik dan mana yang masih butuh perbaikan. Maka itu, setiap minggu sebelum perkuliahan, mereka wajib presentasi in English dengan subyek yang berbeda.

Mata kuliah itu sendiri, belajar tentang performance measured atau kinerja yang terukur. Semuanya masih dalam lingkup manajemen perusahaan:

1. Bagaimana manajer penjualan mencapai pertumbuhan penjualan yang terukur;

2. Bagaimana manajer produksi mencapai jumlah produksi dan kualitas serta biaya yang terukur; atau

3. Bagaimana manajer sumber daya manusia menjaga kinerja yang terukur dari seluruh pegawai.

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Kombinasi angka 69 memiliki bentuk yang saling berseberangan: bentuk 6 terbalik dari bentuk 9, bentuk 9 pun kebalikan dari bentuk 6. Ada yang bilang angka 69 merupakan keseimbangan Yin dan Yang — sebuah kepercayaan masyarakat Asia Timur — secara lambang Yin dan Yang memang mirip angka 69.

Apalah arti dari lambang sebuah angka. Namun beberapa kelompok masih menganggap angka adalah juga lambang dari sebuah makna: angka 666 lambang dari semua kejahatan, sedangkan angka 999 lambang dari semua kebaikan

Bagi loe yang sudah menikah, angka 69 pun memiliki makna harmonisasi, atau saling mengisi. Apa itu? You tell me… hihihi….

Pada minggu ini, ada sebuah kejadian yang berhubungan dengan angka 69. Kejadian yang diawali dengan “foreplay” yang mendebarkan, dilanjutkan dengan kesabaran melakukannya bersama-sama, berbarengan secara emosional saling memberi dan mendukung, kemudian diakhiri dengan “klimaks” yang sangat mengharukan….

Kejadian tersebut adalah proses rescue 33 orang pekerja dari dalam sebuah tambang di negara Chile yang telah terjebak selama 69 hari. Hah?! Selama itu?

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »