Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2010

English translation

Selama ini gue memanfaatkan Twitter cuma untuk komunikasi satu arah. Gue following beberapa informasi sekedar yang diperlukan saja, semisal Traffic Management Centre (TMC) PoldaMetro, Detikcom, Kompasdotcom, Tribunnews, dan Republikaoline. Jadi lebih kepada kepraktisan mendapatkan headline news alih-alih harus mencari berita ke masing-masing website mereka.

Sampai pagi ini gue tertarik akan sebuah tweet di Kompasdotcom: Presiden Tanam Pohon Khaya di Jatiluhur. Tertarik bukan karena kegiatan Presiden atau daerah wisata Jatiluhur. Gue tertarik karena pohon Khaya….

Mengingatkan gue pada pohon-pohon yang berdiri tegak lurus berdiameter 1 meter, yang betebaran menemani gue saat jogging di Gelora Senayan. Iya, banyak sekali pohon Khaya di sekeliling Gelora Senayan, dengan tinggi yang dominan, karena pucuk daun mereka rata-rata telah melewati puncak atap Gelora Senayan.

Pohon Khaya adalah masuk ke dalam keluarga pohon Mahogany yang aslinya berasal dari negara tropis Afrika dan Madagaskar. Semua species Khaya memiliki tinggi 30-35 meter — beberapa sampai 45 meter — dengan diameter batang 1 meter atau lebih. Salah satu species yang tumbuh betebaran di Gelora Senayan adalah Khaya senegalensis.

Khaya senegalensi dikenal oleh masyarakat Zimbabwe, Mozambique, dan Zambia, negara-negara di benua Afrika, dengan nama Mubaba, yang ternyata juga dipakai sebagai tanaman herbal. Biji dari Khaya senegalensis mengandung 34.13% senyawa oleic acid yang bermanfaat untuk melawan penyakit yang merusak otak serta memperkuat daya ingat memory otak.

Gue jadi teringat akan sebuah pepatah China:

“Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Waktu terbaik berikutnya adalah: sekarang!”

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Pulang ke Jakarta masih dalam kagalauan hati. Gue saat ini berada di gerbong nomor 8 kereta api Senja Utama Yogyakarta – Pasar Senen, Jakarta, dalam perjalanan pulang bersama 5 relawan lainnya. Istirahat tidak tenang karena cabin kereta yang lumayan panas, serta hati yang setengah panas. Hati yang masih tidak terima akan attitude beberapa orang Jakarta.

Lima hari lalu gue tiba di Magelang. Tepatnya Desa Bojong, Kabupaten Mungkid. Lokasi ini berjarak 20 Km dari pusat letusan Merapi. Iya, baru saja seminggu sebelum gue berangkat, pada tanggal 5 November 2010 gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah – Yogyakarta meletus terdahsyat selama 7 dekade terakhir. Letusan ini membuat daerah “aman” di atas 10 Km pada 10 hari sebelumnya berubah drastis menjadi “berbahaya”. Well, sebenarnya “mematikan” adalah kata yang lebih tepat.

Mematikan, karena semua daerah sampai sejauh 15-17 Km ke arah Selatan disapu bersih oleh awan panas gunung Merapi, yang menyebabkan puluhan korban berjatuhan: adalah mereka yang sebelumnya merasa aman karena berada di luar radius 10 Km.

Letusan pada tanggal 5 November 2010 ini — dimana abu vulkaniknya sampai ke kota Bogor, Jawa Barat — yang membuat gue dan teman-teman mengambil inisiatif untuk turun langsung ke kaki Gunung Merapi. Dengan radius daerah berbahaya menjadi 20 Km, otomatis jumlah pengungsi bertambah sacara drastis, karena cakupan daerah berbahaya ikut menjadi semakin luas.

Inisisatif yang dilakukan adalah pembentukan posko relawan independent. Lho?! Kenapa independent? Sebelum letusan terdahsyat 5 November 2010, gunung Merapi mengawali letusan pada tanggal 26 Oktober 2010. Sejak itu, banyak sekali posko pengungsi dibangun oleh LSM, atau partai politik, atau juga organisasi lain. Bendera mereka betebaran pada masing-masing posko pengungsi. Ini yang membuat Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 1 November 2010 membuat perintah keras:

“Sebaiknya semua bendera yang dipasang Merah Putih saja. Kalau bukan bendera Merah Putih, lebih baik bendera itu diturunkan!”

(lebih…)

Read Full Post »

English translation

Berapa seh nomor sepatu loe? 38, 40, atau 42? Kalo ukuran baju loe? Lebar (L), Muat (M), atau Sempit (S)? hihihi… Juga berapa tinggi loe, berat loe, gaji loe, atau mungkin… istri loe? oops

Pada diri kita, dan juga lingkungan sekitar kita, semuanya pasti memiliki atribut dan ukuran. Begitulah cara manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Segala tindakan — baik aksi maupun re-aksi — semua dilakukan atas dasar suatu yang terukur, dilaksanakan dengan terukur, dan berharap sebuah hasil yang juga terukur.

Pada sebuah mata kuliah The Strategic Performance Management System, di hari pertama menit pertama perkuliahan semester, gue minta semua mahasiswa gue untuk maju satu persatu menceritakan tentang profile diri mereka masing-masing. Semua harus dalam bahasa Inggris.

Bukannya gue sok bule, tapi gue harus mencetak mahasiswa Indonesia untuk siap tampil “Go Global“. Itu tolak ukur pertama gue buat mereka. Selain itu, cara mereka melakukan speech di depan kelas, juga harus terukur: mana yang sudah baik dan mana yang masih butuh perbaikan. Maka itu, setiap minggu sebelum perkuliahan, mereka wajib presentasi in English dengan subyek yang berbeda.

Mata kuliah itu sendiri, belajar tentang performance measured atau kinerja yang terukur. Semuanya masih dalam lingkup manajemen perusahaan:

1. Bagaimana manajer penjualan mencapai pertumbuhan penjualan yang terukur;

2. Bagaimana manajer produksi mencapai jumlah produksi dan kualitas serta biaya yang terukur; atau

3. Bagaimana manajer sumber daya manusia menjaga kinerja yang terukur dari seluruh pegawai.

(lebih…)

Read Full Post »