Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2010

English translation

Untuk loe — terutama cewe — kira kira jatuh pingsan gak kalau ada cowo yang tiba-tiba kasih loe cicin bermata intan? What..?! Intan geto lho! hihihi…. Siapa yang gak silau lihat intan. Secara dia memang punya kemampuan mendispersikan cahaya ke segala arah, memberkaskan cahaya keindahan, serta menebarkan pesona. Iya, intan adalah sebuah benda khusus, eksklusif, dan dihasilkan oleh alam dengan proses yang khusus pula.

Nama intan atau diamond berasal dari bahasa Yunani kuno adamas yang berarti unbreakable. Intan pertama kali ditemukan disekitar sungai Penner, Krishna, atau Godavari, India, sekitar 6.000 tahun lalu. Pada masa itu, intan memang sudah dipakai sebagai simbol kesempurnaan keagamaan.

Yang lebih menarik adalah, bagaimana intan itu terbentuk: kumpulan mineral karbon yang terpenjarakan 150 KM di dalam perut bumi, yang mendapat tekanan tinggi, pada suhu yang tinggi pula, dalam rentang waktu selama jutaan tahun. Thanks to magma. Mineral karbon tersebut terdorong magma ke atas permukaan bumi bersama meletusnya gunung, kemudian menjadi dingin tiba-tiba, dan mengeras sekeras-kerasnya melebihi batuan lainnya. Itulah mengapa, selain indah, intan juga dipakai sebagai ujung mata bor pada penambangan modern saat ini.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

English translation

Pagi ini gue jogging di putaran Gelora Senayan. Kegiatan rutin ini sempat off setelah bulan puasa Ramadhan tahun lalu. Tapi tahun 2010 gue berniat untuk mulai rutin jogging lagi 3x seminggu, sebagai salah satu resolution gue di tahun 2010.

Off empat bulan jogging rupanya tidak merubah komunitas jogger di Gelora Senayan ini. Muka-muka lama yang rutin jogging pagi masih sama. Yang jualan koran juga. Yang jualan sarapan dan minuman juga. Termasuk juga seorang ibu tua yang berjalan perlahan berkeliling di jalur tengah putaran jogging, yang selalu berjalan berlawanan arah. Ibu ini adalah pengemis, terlihat dari penampilan dan pakainnya. Jelas bukan jogger, karena tidak ada merek Nike, Reebok, atau Adidas pada pakaian maupun sendal jepitnya yang butut… hihihi….

Ibu pengemis ini berharap uang dari para jogger Senayan. Beberapa jogger memang tampak memberikan ke ibu itu sekedarnya. Gue gak tau berapa keliling dia berjalan, juga omzet-nya setiap pagi. Namun pagi ini gue melihat ibu ini berhenti sejenak, menunduk, lalu memungut sesuatu. Ternyata sebuah uang koin Rp.200,-!!!

Gue pun tertegun. Ibu pengemis ini jelas berbeda. Tidak seperti sebagian besar pengemis jalanan maupun lampu merah yang memiliki kualitas mental jauh dibawah Ibu pengemis ini. Pengemis lain, yang hidup dengan memilih profesi dan job-desc sebagai pengemis di Jakarta, memiliki mental matre. Mereka menentukan minimal requirement. Pemberian dibawah Rp.1.000,- akan tidak dianggap. Jangankan koin Rp.200,- seperti yang Ibu pengemis pungut di Gelora Senayan, pengemis Jakarta lainnya kebanyakan marah-marah, bermuka mesem tertekuk, atau senyum cemberut dipaksakan — apabila cuma diberi koin Rp.500,-. Hah! Tanda-tanda pengemis yang tidak bersyukur!

Gue tertegun kepada Ibu pengemis itu karena gue melihat adanya tanda bersyukur saat menemukan uang di jalan walaupun cuma koin Rp.200,-.

(lebih…)

Read Full Post »