Mendengar kata “kanibal”, mungkin bulu kuduk loe akan berdiri. Memang persepsi umum kata kanibal cukup horror, yaitu memakan darah-daging spesies sendiri atau teman sendiri atau komunitas sendiri… hiiii…. Tapi note ini tidak akan bercerita tentang horror, melainkan lebih mengenai perkembangan teknologi.
Masih ingat saat Apple mengeluarkan produk iPad di tahun 2010? Banyak business analyst saat itu memprediksi bahwa iPad akan meng-kanibal-kan penjualan produk Apple yang lain semisal MacBook. Statistik selama satu tahun setelah peluncuran iPad memang menunjukkan penurunan penjualan MacBook, namun ternyata tidak sampai membuat MacBook benar-benar mati. Sekarat pun tidak.
Produk pemutar musik Apple iPod yang membuat penjualan produk Sony Walkman mati, adalah salah satu best practice sebuah kejadian kanibal: pemutar musik analog (Walkman) di-kanibal oleh pemutar musik digital (iPod).
Dalam fotografi, ternyata teknologi film analog juga telah berhasil di-kanibal oleh teknologi film digital fotografi. Proses perjalanan kanibal ini gue alami sendiri karena memang salah satu hobby gue adalah fotografi.
Awal perkenalan gue dengan hobby fotografi sebenarnya adalah muara dari kekecewaan gue setelah pulang Ekspedisi Kecil Luweng Ombo — ekspedisi penelusuran gua vertikal 100m single drop — di Pacitan pada tahun 1988, yaitu saat liburan gue pas selesai ujian kelulusan kelas 3 SMA.
Ekspedisi yang pelaksanaannya berhasil di lapangan, ternyata tidak berhasil dari sisi dokumentasi. Fotografi film analog hasil ekspedisi tersebut tidak lebih dari beberapa lembar foto yang kusam dalam kegelapan lorong gua, tidak fokus, serta komposisi yang gak jelas. (Catatan: saat itu fotografi film analog hasilnya baru bisa dilihat setelah kembali ke Jakarta dengan proses cuci-cetak film).
Gue mengalami masa-masa film analog fotografi mulai tahun 1988 sampai 1998 atau selama 10 tahun. Apakah gue meninggalkan film analog karena mulai masuk ke era film digital? Gak juga….
Gue berhenti pakai film analog di tahun 1998 karena faktor eksternal: saat itu Indonesia mengalami krisis moneter a.k.a krismon, dimana nilai Dollar Amerika terhadap Rupiah naik 400%, membuat harga film dan cuci-cetak film analog ikut naik 400%. Sedangkan yang gak naik di tahun 1998 adalah cuma satu: gaji gue… hihihi…. Apalagi 5 tahun terakhir saat itu, gue sudah beralih dari film analog “negatif” ke “positif” yang harga per satuannya lebih mahal semisal merek Kodakchrome.
Bicara film analog fotografi, pasti gak akan lepas dari film bermerek Kodak. Saking terkenalnya merek Kodak, beberapa daerah di Indonesia menyebut Kodak sebagai alat kamera alih-alih merek film. Mungkin loe pernah dengar pertanyaan ini saat acara kumpul keluarga: “Bawa kodak gak?”, yang maksudnya “Bawa kamera gak?”.
Intermezo. Kamera adalah alat perekam gambar yang bekerja dengan memasukkan seberkas cahaya melewati sejentik lubang ke dalam ruangan kecil yang gelap. Dan di dalam ruang gelap tersebut, cahaya akan membakar film, tepatnya merekam gambar di atas film dengan arah terbalik 180 derajat (kepala di bawah kaki di atas). Ruang gelap kecil tersebut dinamai oleh ilmuwan Arab, Alhazen (Ibn al-Haytham), dengan “Qamara” sehingga alat tersebut dikenal dengan sebutan “Camera” (English) atau “Kamera” (Bahasa Indonesia). Kata Arab “Qamara” kalau di Indonesia sepadan dengan kata “Kamar” yaitu ruangan kecil untuk istirahat.
Kembali ke Kodak. Persepsi “kamera adalah Kodak” atau “Kodak adalah kamera”, tidak bisa disalahkan, karena perusahaan pembuatnya, Eastman Kodak Company, sudah ada sejak 133 tahun lalu, saat-saat awal penemuan, riset, maupun pengembangan fotografi sedang marak. Namun kini, Kodak mungkin cuma akan menjadi kenangan…. Hah?! Serius loe..?
Iya. Tanggal 19 Januari 2012 lalu, perusahaan Kodak Eastman Company mengajukan permohonan ke otoritas di negaranya berupa “proteksi dari kebangkrutan”. Sebuah permohonan serius — bisa dibilang memalukan secara business — yang menunjukkan perusahaan tersebut benar-benar hampir bangkrut, sehingga butuh proteksi untuk tidak membayar hutang-hutang usahanya, agar bisa survive. Hmm… benar-benar serius neh…!
Padahal Kodak terkenal sebagai perusahaan pembuat inovasi. Bahkan tahun 1992 saat teknologi digital fotografi baru masuk tahap embryo, Kodak pula salah satu perusahaan yang mengeluarkan kamera film digital pertama kali. Hebat kan?! Lalu apa seh penyebab potensi kebangkrutan Kodak…?
Ternyata manajemen Estman Kodak Company, di tahun 1990an tidak berani mengambil keputusan untuk benar-benar terjun ke digital fotografi, hanya karena takut core-business mereka — berupa produk film analog — akan di-kanibal oleh produk baru kamera Kodak film digital.
Sekarang keputusan business tersebut ternyata salah. Dan terlambat sudah. Karena saat ini business film analog fotografi — secara keseluruhan tidak saja Kodak — benar-benar sudah di-kanibal oleh film digital fotografi. Kebangkrutan Kodak pun mulai tampak di depan mata.
Hikmahnya adalah: seseorang yang memiliki otoritas pengambil keputusan haruslah memiliki visi jangka panjang yang baik, agar tidak terjadi kebangkrutan yang fatal.
Hikmah ini cocok banget buat loe, apalagi gue: kalau gak punya visi, di akhirat loe juga akan bangkrut. What?! Apa bisa bangkrut di akhirat…?
Iya bisa. Mereka yang bangkrut di akhirat nanti adalah orang yang sepanjang hidup amal baiknya banyak sekali, namun di sisi lain suka mempersulit, menyakiti, bahkan membunuh orang lain tanpa hak, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Mereka ini di akhirat akan di-debet tabungan amal baiknya oleh orang-orang yang dipersulit, disakiti, dibunuh, sehingga tabungan tersebut menjadi tipis bahkan habis… bis… bis…. Bangkrut..!
Mulailah kita perbaiki visi hidup kita: jangan salah ambil keputusan dalam bertindak, sehingga tidak terjadi kanibal di akhirat kelak nanti terhadap amal baik yang sudah kita tabung bertahun-tahun selama hidup. Tabungan amal baik yang akan di-kanibal oleh amal buruk.
Mulailah dari hati nurani. Dan mulailah dari sekarang.
HM Ihsan Kusasi
Jan 20, 2012
*kalimat terakhir didedikasikan untuk pejabat republik ini.
Pac man …
Baru baca tulisan lengakapnya , sangat menggugah…..
kodak sounds so familiar to me… jadi inget kalo beli film isi 24 ato 36 (kadang dapet bonus 1 ato 2) asa 200. another great writing, be… like it much… ^.^
Inspiring.
Sereem ah gini hari ngomong’in kanibal.., hik hik.
)
Tp, stlh lihat isinya…, luar biasa bagusnya…., tx ya Ihsan…
drpd kanibal mendingan kak pembina aja deh, sapa taw bisa di kadal-in
Subhanallah.. inspiratif, good analogi.. trims kawan.
Terima ksh pak Ihsan..peringatan yg mengena banget!!
muantab eiu….yang paling harus kita cermati adalah kanibal dalam bentuk dan cara yang berbeda…..yang dimakan tetap sama….yaitu speicesnya sendiri…..
berpikir utk org banyak…bagian dr jiwa seorg pemimpin or decision maker..like this !
Masalah Kodak, memang suatu insight yang sangat baik … Sementara ‘Fujifilm’ thriving ! The Economist & Time menyoroti dalam artikel utama mereka minggu ini … Very Good Insight, Ihsan …I like it !
makacih…pa,..dah di ingetin…..!! happy weekend yaa…!!!
Top markotop, sip markosip, thanks makithanks pak haji
Tulisannya bagus, informatif dan mengesankan…
Terima kasih ya…. saya tunggu karya2 yang lain..
waduh terakhirnya kena banget kang..nuhun u sharingnya:)
Terima kasih San….ulasan yang sangat bagus dan sangat bermanfaat, Salam buat anak2 dan Eva. Have a nice weekend. Ditunggu ulasan2 lainnya……:)
Ihsan selalu bagus noted-nya….ijin share ya…
Subhanallah…insya Allah hikmah dr tausiyah ente akan ‘mencerahkan’ hati setiap orang yg membacanya ji…آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْ
Konsep keseimbangan tuk jd pengusaha sgt penting mengurus customer dalam(karyawan) dan mengurus customer luar(pelanggan setia) tuk yg pertama kesejahteraan mrk secara manusiawi hrs dpenuhi tuk customer luar hrs terus mencari inovasi2 baru mengikuti perkembangan zaman
mantap…
tulisannya bagus gan,
tetap semangat lah.
nice blog,, jadi banyak inspirasi.
makasih gan
inspiratif..
makasih gan