Sudah beberapa minggu terakhir ini lagu “Online” yang dinyanyikan Saykoji menjadi hits. Lirik lagu ber-genre Rap tersebut mengena sekali, dimana teknologi saat ini sudah memanjakan kita untuk bisa online Internet sepanjang waktu dimana saja kecuali blank spot. Dalam lirik tersebut terdapat kritik sosial mengenai bagaimana waktu kerja terbuang karena hanya dipakai untuk online yang gak puguh. Termasuk kritik buat loe yang sedang baca note gue ini pada jam kerja… hihihi… jangan marah ya… pantun dulu ahh: jeruk nipis tumbuh di halaman… artinya? …Piss Man… hihihi… (baca: Peace Man)
Gue suka Rap. Hah? Iya, gue suka lagu ber-genre Rap justru karena sarat akan kritik sosial. Tidak seperti genre Pop yang mendayu-dayu menangisi nasib sendiri karena ditinggal pacar. Atau paling apes mendapatkan pasangan loe sedang selingkuh di bawah pohon dukuh… hihihi….
Beberapa hal yang gue suka dari lagu Rap:
- Intonasi yang tegas menyentak-nyentak seakan menyalurkan energi semangat
- Kalimat yang mengalir dengan tempo cepat sehingga melatih konsentrasi untuk mendengarkannya
- Menggunakan bahasa pantun dengan akhir kalimat yang seragam sehingga pemilihan kata-katanya terkadang kocak penuh kejutan
- Iringan musik hip-hop dengan beat yang cukup kuat turut memompa adrenaline pendengarnya
- Kritik sosial dari berbagai sudut dimensi
Salah satu lagu Rap kesukaan gue karena kritik sosialnya sangat kental dan membumi adalah lagu “Bosan” yang dinyanyikan Blake. Lirik awalnya sebagai berikut:
Bosan… di rumah lagi sendirian…
Papa sibuk… mama arisan…
Gak ada lagi yang bisa jadi perhatian…
Semuanya bikin gua jadi blingsatan…Nonton TV… acaranya gak karuan…
Cuma iklan… yang isi tiap saluran…
Mau ke luar rumah tapi gak ada teman…
Mau makan… gak ada yang bisa dimakan…
Dan lirik pada tengah lagu tersebut adalah sebagai berikut:
Tiba-tiba… seorang gadis menghampiriku…
Dia menoleh sambil lalu…
Wajahnya cantik… dan terlihat lugu…
Tapi kenapa bibirnya penuh dengan gincu…Tak kusangka… tiba-tiba dia menyapa…
Kutunggu sampai dia menyebutkan nama…
Namun di matanya tersimpan duka…
Seolah di hatinya tak ada lagi tawa…Ingin ku bertanya… tapi dia berdiri…
Tangannya terjulur mengacungkan ibu jari…
Tak lama kemudian sedan mewah berhenti…
Cepat dia masuk dan tak kelihatan lagi…
Lirik di awal mengkritik kondisi sosial remaja perkotaan dimana orang tuanya sibuk urusan masing-masing. Kebutuhan si anak atas perhatian orang tuanya menjadi sirna sudah. Juga sekaligus mengkritik kondisi pertelevisian Indonesia yang memang isinya gak karuan gak jelas juntrungannya.
Pada lirik di tengah cukup jelas akan kritik sosial fenomena gadis-gadis ABG saat ini: gadis dengan mata lugu namun putus asa, bermodalkan wajah cantik karena make up, lalu cukup berani untuk diangkut oleh lelaki hidung belang bermobil mewah. Boleh jadi, keamanan si gadis mungkin terjamin… tapi kehormatan ? siapa tahu… hihihi….
Sebenarnya banyak sekali lagu Rap Indonesia yang sarat akan kritik sosial. Sebut saja misalkan “Cewe Matre” oleh Black Skin atau “Borju” oleh NEO. Coba deh loe perhatikan lirik-lirik mereka. Pasti banyak hal baru yang loe dapat. Terkadang kita susah menerima kritik teman dekat. Namun tidak bila dikritik oleh Rap.
Musik Rap berkembang di Amerika oleh etnis American-African. Etnis yang dulu tertekan oleh perlakuan perbudakan oleh etnis lainnya, sehingga tidak heran kalau lagu Rap sarat dengan kritik sosial. Mungkin saja Rap aslinya di benua Afrika hanyalah sebuah kebudayaan berbalas-pantun, sama halnya salah satu kebudayaan tradisional Indonesia. Namun gaya berbicara Rap berbeda, dan jelas mengikuti gaya berbicara rata-rata orang Afrika.
Loe pasti sering dengar cerita-cerita menarik yang dibawa pulang oleh rombongan Haji. Saat gue mendapat “undangan mendadak” naik haji akhir tahun 2006 — yang dikenal dengan musim haji kelaparan — gue bertemu dengan banyak etnis manusia, termasuk yang dari benua Afrika. Pada suatu saat setelah gue selesai thawaf, yaitu jalan 7 kali mengelilingi Ka’bah, gue lalu break dan mengambil posisi duduk bersila sekitar 50 meter di depan pintu Ka’bah. Bersila untuk berdoa. Baru beberapa menit berlalu, konsentrasi gue buyar mendengar suara seorang ibu berdoa sekitar 2 meter di belakang kanan gue.
Gue tengok, si ibu ternyata dari etnis Afrika. Dia sedang berdoa dengan bahasa aslinya, bukan doa berbahasa Arab seperti yang diajarkan guru ngaji kita sewaktu kecil. Yang membuat gue menatap muka si ibu sekitar satu menit gak berkedip adalah: dengan suara agak keras dan mata berkaca-kaca, si ibu sedang berdoa, atau tepatnya sedang nge-Rap, atau tepatnya lagi kombinasi keduanya… iya, ibu itu sedang berdoa dengan nada Rap! Suatu pengalaman tak terlupakan bahwa gue bisa mendengar nada Rap dari sumber aslinya… pada acara Reuni Akbar seluruh etnis manusia di satu lokasi di muka bumi ini setahun sekali… pada saat musim Haji. Selesai dan balik jalan ke hotel, gue masih kepikiran, tadi itu kejadian benar atau cuma halusinasi ?
Melakukan kritik terhadap sesuatu memang harus punya cara. Lagu Rap adalah salah satunya. Akhir-akhir ini beberapa pengkritik mendapatkan cobaan berupa gugatan oleh yang dikritik atas dasar pencemaran nama baik. Padahal, suatu kritikan dan suatu pencemaran nama baik, adalah dua obyek yang berbeda. Sayangnya benang merah batas antara keduanya masih belum jelas di negeri bernama Indonesia ini. Masih gray area. Dan ternyata ada orang memanfaatkan gray area ini untuk keuntungan pribadi. Ada orang yang memang senang bermain di air keruh.
Orang tersebut pasti akan kena batunya. Sekali salah langkah, akal bulusnya akan terkuak. Dia tidak sadar bahwa informasi saat ini sudah sedemikian mudah tersebar. Secepat jentikan jari.
Thanks to technology. Thanks to online….
HM Ihsan Kusasi
August 2, 2009
Blog WordPress terkait:
- Sindiran Saykoji oleh Rangmudo
- Online… Online… oleh Haris Ahmad
- Fenomena Online, kebutuhan atau lifestyle? oleh Fouriers
- curhat… musik sebagai stimulus perkembangan otak balita oleh Diviarsa

as usual….very good article San…:-)
Oleh: Abang Edwin SA on 2 Agustus 2009
at 13:55
Lengkap deh Pak. Ada musik, teknologi, sosiologi-antropologi, religi, gigi…hehehe… 2 thumbs up deehh…
Oleh: Sofia Gandhi on 2 Agustus 2009
at 14:15
siapa sih mas? hmmmm …yg ituuh??
Oleh: supermom eva on 2 Agustus 2009
at 16:28
Tumben panjang banged…
Oleh: supermom eva on 2 Agustus 2009
at 16:45
sikap kritis terhadap lingkungan sosial kita itu yang harus kita terus tularkan pada lingkungan sekitar kita, sebagai bentuk kepedulian pada generasi berikut….saluuut….lanjut terus bro
Oleh: Dexi Arnaz on 3 Agustus 2009
at 15:14
very very good article…same on.U I like Rap very much with all Ur reasons above..Hidup Rap n Hip Hop
Oleh: Ni Luh Santi Ratnadi on 3 Agustus 2009
at 15:15
ihsan is a very good to critics anything …. good job bro ….
Oleh: Cilla Divy on 3 Agustus 2009
at 15:15
tukang kritik sosial dg lagu yg paling yahud adalah iwan fals, sorry bang ihsan doi ga bisa dibandingin ama saykoji, krn perbandingannya bagai bumi n langit. th 90an awal ‘bento n bongkar’ diliuncurkan, tp bangsa kita bukannya jd lebih baik malah lebih ancur sampai puncaknya th 98; gw heran dg anomali bangsa kita yg satu ini, dikritik tp malah makin menjadi.
kritik n pencemaran nama baik jelas berbeda, tp apa sih yg ga mungkin di negara kita? lapor ilang kambing aja bisa ilang sapi jadinya
ADGN!! …. another damn good note.
Oleh: Daniel Lapian on 3 Agustus 2009
at 15:15
Wow…..gue suka banget cerita seorang Ibu dari Afrika yang sedang berdoa San …jadi pengen dengerin….
Oleh: Eko Ridho on 3 Agustus 2009
at 15:16
bang ihsan dan bang daniel sama2 kritis dan punya bakat menuangkannya dalam tulisan…
Oleh: Maya Halim on 3 Agustus 2009
at 15:16
online to facebook……
Oleh: Edie Punk Osbourne on 3 Agustus 2009
at 15:17
wah…
Oleh: Emil Devina on 3 Agustus 2009
at 15:18
San… Sebenarnya lagu rap dari negara mana saja tidak menjadi masalah, selama itu membangun dan berguna …lagu rap mau itu kejadian benar atau cuma halusinasi, kita harus positif thinking dalam menyingkapinya. mengenai orang tidak mau berubah perilakunya pasti akan kena batunya suatu saat. Sekali salah langkah, akal bulusnya akan terkuak. Orang yang tidak mau dengar-dengaran dia tidak sadar bahwa informasi saat ini sudah sedemikian mudah tersebar. Secepat jentikan jari dan suatu saat akan malu. thx bro
Oleh: Edwin Parulian on 3 Agustus 2009
at 15:18
kritik sosial memang sering diinsfirasikan oleh seniman dalam berbagai macam bentuk dengan lirik lagu misalnya…
Oleh: Saifuddin Rum on 3 Agustus 2009
at 16:39
kritik boleh..yang penting saya pikir membuat managemen waktu..kapan kerja..kapan online gitu..klo lagunya hits ga masalah..yang jelas tetap komitmen dengan apa yang haris dikerjakan..jadi why not..bukan masalah besar..tapi mulai mengatur diri sendiri..dan displin..itu baru orang yang pintar…
Oleh: Joni Ersa on 3 Agustus 2009
at 16:42
Boss,
tulisannya mantaps … cuma ente kurang “main-main” dengan category/tag.
cobalah tambah tag wajib spt : berita, artikel, umum, informasi dan tag sejenisnya … dijamin deh pengunjungnya ribuan dalam sebulan (bukan dalam setahun)
salam
blogger wordpress
Oleh: doyan_kerupuk on 4 Agustus 2009
at 14:33
bosann… di rumah sendirian
ihsan sibukk… bikin tulisann…
nggak ada lagi yang jadi bacaann…
semuannya bikin gue nggak kebablasann…
( pengamennn )
hehehe…. misi banggg … kok upah lagunya cuma gopek !
Oleh: Jesse James on 5 Agustus 2009
at 22:10
Menarik tulisan loe San..gue pernah ngalamin hal yg sebaliknya dari loe, yaitu pas lg di konser reggae di padang terbuka tiba-2 gue denger suara azan…gue cari-2 asal suaranya taunya vokalisnya yg azan karena emang ni group band dari African Moslem Reggae Community..kaget aja gue ama unik aja dengernya di tempat yg gak disangka-sangka
Oleh: Bill Indrawan Singawinata on 5 Agustus 2009
at 22:11
Thx San..
Gw juga punya apresiasi yg sm utk mbah surip, eh, ya Allah, gak konsen jadinya. Anak gw lg keilangan mbah surip!
Maksud gw lagu2 rap. Meski kdg gak bs nerima musiknya, tp gw kagum sm pembuat lirik2nya.
Gila ! Gak gampang lho, bikin lirik yg bercerita, smbl tetep konsisten sm aturan baku berpuisi. Yaitu penyeragaman buntut2 suku kata. Terlebih, yg mampu pake lagu rap buat bicara ttg sesuatu yg berisi
Oleh: Riri Galuh Savitri on 5 Agustus 2009
at 22:11
Wah mantap tulisannya nih kang, hayoo maju terus pantang mundur utk karya2 tulisannya
Oleh: Julian Hutabarat on 5 Agustus 2009
at 22:11
sebetulnya alm Benyamin S itu pelopor rap loh.. coba aja simak lagu2 dia taon 70an, nyanyinya kan gaya ngoceh, ngomel, kritik, sekaligus nglawak.. cuma th 70an blom ada istilah rap.. kalo dia di Amrik, udah jadi godfather of rap kali ya..
anyway, nice notes boss..
Oleh: Nelwin Aldriansyah on 5 Agustus 2009
at 22:12
Rap/hip hop di Amrik sendiri awalnya cuma pesta di halaman rumah tiap week end di tahun 70an di Bronx New York. Ada MC (sekarang rapper kerap disebut emcee), turn table, dan DJ. Liriknya murni soal pesta, dan dansa. Pokoknya yang bikin goyang aja lah. Soalnya rata-rata hidup mereka udah susah/melarat waktu zaman itu. Sekadar cari hiburan gratis.
Akhirnya tahun 80-an, hip hop mulai jadi kendaraan untuk masyarakat kulit hitam dalam menyuarakan ketidak adilan yang dia rasakan. Kritik sosial mulai muncul di lirik hip hop.
Sekarang para rapper udah kaya. Era blink blink hip hop mencapai puncaknya. Harta, dan wanita mendominasi tema karya musik ini. Kayaknya mereka sendiri udah lupa sama hidup susah.
Giliran mereka (rapper Amrik) yang sering dikritik tuh. Ngomongin cewek dengan vulgar, belum lagi video klipnya yang lebih mirip film semi ketimbang video musik.
Nggak semuanya sih…..
Hidup Mbah Surip. Lho???
Oleh: Yorgi Gusman on 5 Agustus 2009
at 22:13
Waduuh u smuany makasih atas infony… N trutama bang ihsan dtunggu trs y note slanjutny… Makasih:)
Oleh: Fitri Alia on 7 Agustus 2009
at 08:17
setuju San. note yang bagus. lanjutkan nulisnya ya… ditunggu note berikutnya
Oleh: Eko Kusumawijaya on 7 Agustus 2009
at 08:18
Bokap gw demen masak San, masakan yg simple2 aja sih, pastinya. Tp, yg selalu bikin heboh kita adl. Kl beliau bikin indomie rebus. Harum nya, maaaak..sampe radius 1 km kali. Tau nggak kenapa? Krn isinya lengkap bgt ! Udang, ayam, bakso, sosis..hmmm..kl inget bs bikin batal puasa.
Terus terang San, blog lo ini ngingetin gw akan indomie rebus buatan bokap ! Lengkap ! Bravo man…!
Oleh: riri galuh savitri on 16 September 2009
at 06:13