Berita tentang jatuhnya pesawat Hercules hari ini membuat gue mules. Begitu mengenaskan: sebuah pesawat jatuh pas di Hari Kebangkitan Nasional. Lebih dari 90 penumpang meninggal akibat peristiwa duka itu. Gue ingin sampaikan rasa belasungkawa kepada korban dan keluarga yang ditinggalkan lewat note ini.
Hercules di mata gue adalah sebuah simbol kekuatan Negara. Memang Hercules tidak bisa melakukan dog fight seperti halnya F16 ataupun Sukhoi yang juga dimiliki Angkatan Udara kita. Mungkin kalau mereka bertiga – Hercules, F16, Sukhoi – lagi nongkrong di hanggar, Hercules yang paling jadi obyek cela’an: “Hei Gendut, loe bisa gak manuver seperti gue, terbang dengan kepala di bawah?” Halaahh… head spin kalee… hihihi…
Namun Hercules banyak sekali manfaatnya untuk mengangkut logistik keperluan pasukan bersenjata kita, termasuk mobilisasi pasukan itu sendiri. Saat terjadi sebuah musibah berskala nasional, Hercules lagi yang terlihat sibuk bolak-balik mengangkut bala bantuan, salah satunya bisa jadi sumbangan dari loe juga lewat jaringan TV. Maka Hercules pun bagi gue bisa menjadi simbol kesatuan Negara.
Di pojok otak gue, ada sejumput memori gue dengan Hercules. Memori yang kalo di replay cuma berdurasi 10 detik: ini adalah moment dimana gue sempat mengejar Hercules bagai gue mengejar angkot. Hah?
Ceritanya begini: setelah 7 hari membantu di tenda pengungsi dan melakukan evakuasi korban tsunami Aceh awal tahun 2005, gue dan 9 teman lainnya memutuskan pulang. Berangkat nekat seminggu lalu cuma dengan modal one-way ticket sumbangan Adam Air, kami merapat ke bandar udara Aceh dan berharap bisa menumpang Hercules balik ke Jakarta. Saat mendaftar, kami ada di waiting list dan akan masuk Hercules 5 hari kemudian. Walahh… mana logistik (baca: uang) sudah menipis lagi. Langsung kami kontak beberapa teman yang memang bekerja di Lanud Halim.
Hari pertama gagal mendapatkan konfirmasi. Setelah menginap semalam di emperan bandara, esok harinya kami bangun dengan tetap optimis bisa keangkut ke Jakarta pada hari itu juga. Sebuah Hercules dari Lanud Halim baru saja mendarat. Kami segera kontak teman kami di Jakarta. Kami sebutkan nomor pesawat, sehingga teman kami bisa telpon ke pilotnya. Detik-detik menegangkan. Baling-baling sudah mulai berputar. SMS konfirmasi diterima: segera lapor ke Pilot!
Langsung salah satu teman kami melapor. Hasilnya: green light!!
Teman kami langsung berlari kembali. Dengan bahasa tubuh memberi kode untuk memakai ransel dan segera naik. Padahal baling-baling berputar semakin kencang! Hercules pun sudah bergerak perlahan! Jarak kami dan Hercules sekitar 100m. Pintu belakang sudah naik. Last minute. Sekarang!
Bagaikan mengejar angkot, kami semua berlari berhamburan mengejar Hercules dengan tangan memanggil-manggil. Tantangan kami menjadi tiga: berlari mengejar melawan angin baling-baling, berlari dengan membawa beban ransel, dan memanjat pintu belakang pesawat yang sudah naik setinggi dada! Wuff… what a moment! Ratusan orang yang duduk waiting list cuma bisa bengong melihat gerak cepat colongan ini. Tidak masalah duduk di lantai alumunium dingin di dalam, yang penting keangkut pulang.

Di bandar udara Aceh saat pasca tsunami ini pula gue bisa melihat berbagai versi Hercules yang datang dari berbagai negara membawa bantuan. Yang tercanggih adalah yang dimiliki USAF. Hercules yang paling besar ukurannya dan bermesin 4 jet. Bandingkan dengan Hercules kita yang masih bermesin baling-baling. Kecil pula. Di bandara negeri sendiri itu gue merasa paling culun: ibarat gue sedang parkir di gedung DPR, dimana banyak sekali mobil mewah, sedangkan gue cuma pake Corolla DX tahun 80an… hihihi… Itulah bedanya antara rakyat dan wakilnya.
Dalam dunia kerdigantara, tidak ada diperkenankan sebuah kagagalan. Tidak seperti bis, kereta api, atau kapal laut yang menjejak bumi, pesawat terbang melayang. Sehingga apabila terjadi kegagalan, hasil akhirnya pasti gagal total. Pesawat akan jatuh kembali ke bumi sebagai kepastian hukum alam. Kalau loe masih inget, dulu ada sebuah film dan gue suka sekali tagline-nya. Film G.I. Jane:
“Failure is not an option”.
Begitu pula manusia. Kegagalan sejatinya bukan suatu pilihan. Tanamkan hal ini di mindset loe, cuma akan ada 2 pilihan: berhasil atau berhasil banget! Dan jadikan keberhasilan itu bukan sebagai target hasil akhir, namun sebagai proses dalam menjalani hidup ini. Selanjutnya loe akan selalu menganggap kegagalan hanyalah sebuah keberhasilan yang tertunda dan ada proses pembelajaran yang baru saja loe lewati.
Target sesungguhnya hanya akan ada di akhirat nanti. Pada saat kematian menjemput, saat itulah kita akan segera memasuki point of no return. Di sana kita harus berhasil! Itu baru namanya loe banget!
Jadi janganlah kita jatuh sebelum kita bangkit. Selamat Hari Kebangkitan Nasional!
HM Ihsan Kusasi
May 20, 2009

Jempoll !!
Oleh: Meita Mardiaty on 21 Mei 2009
at 14:48
4 jempol!!… tp pesawat USAF dg 4 mesin jet tuh Galaxy kalee… setau gw kita negara pertama pemakai Hercules; sewaktu BK melawat ke amrik taon 60-an, dia bilang mo beli, pihak amrik terkaget2 secara itu pesawat masih di blue print, mungkin BK dpt bocoran dr KGB kali, nah krn waktu itu amrik pengen pdkt ke kita, dapetlah 12 biji, ‘noh bungkus deh kang’ kira2 gitu kate si JFK… cmiiw
… turut berduka cita.
Oleh: Daniel Lapian on 21 Mei 2009
at 16:39
San…gw barusan dengar cerita Mantan KASAU zaman Orba…. beliau bilang seorang pilot harus sering berlatih …. berlatih…berlatih…dan jgn hanya kerja saat misi atau apalah ini..itu… ada kegiatan langsung terbang tanpa pernah berlatih…berlatih..berlatih .. jadi tdk profesional … akibatnya kecelakaan kata2 itu sama dgn teman saya Letkol Penerbang di AU sekarang masih aktif…gw kerjain semua pilot2 pada belagu…kalau diajari lebih hebat dia…..gw tekut aja tuh kapal pada panik tuuh pilot2
Oleh: Edwin Parulian on 21 Mei 2009
at 17:03
First of all , saya ucapkan takziah kepada para korban terhempasnya pesawat hercules yang bikin Ihsan mules…..
Secondly, aku gak pernah bosan dengan gaya penceritaan kamu deh Ihsan,…there’s always a comparison beberapa fakta yang beda situasi dan kondisinya tapi bisa saling dikaitkan.
Last but not least…pasti ada unsur dunia dan akhirat… karena hakikatnya, itulah tempat dimana sedang dan akan kita jejaki.
Thanks for sharing..
Oleh: Fria Suntjojo on 21 Mei 2009
at 18:09
bagus banget Ihsan…
Oleh: Anita Nazir on 21 Mei 2009
at 18:28
kalo TNI (au,al dan ad) di check dan diranking o/ badan transportasi (gw ngga tau apa namanya?) yg biasanya ngasih ranking airlines swasta…. mgkn msk kategori 5 kali ya?
Oleh: Thomas Wahyu Kalaij on 21 Mei 2009
at 18:37
“Berhasil atau berhasil banget” hmmm…
Oleh: Ken Aristo Yundalis on 21 Mei 2009
at 20:19
turut berduka…!!!
ne negara aneh mmg…dah jarang beli tp jatuh mulu ya pesawatnya…hhmmm
Oleh: Pramadya Sri Sudibyo on 21 Mei 2009
at 22:30
“The only man who never makes a mistake is the man who never does anything.” ~~Theodore Roosevelt
Oleh: Itok Nugroho on 21 Mei 2009
at 22:47
Hercules….. bagi kami-kami yg tinggal di kalimantan, adalah dewa penolong saat-saat menjelang lebaran…. terima kasih AU!
Oleh: Triyanto Oil Palm on 22 Mei 2009
at 08:52
Turut berduka, sudah jelas…
Kalo boleh jujur, saya baru kali ini baca tulisanmu sampe tuntas…ternyata saya termasuk orang yang beruntung mendapatkan bacaan dgn gaya bahasamu yang menarik..:).
Thank you, Ihsan.
Oleh: Nita Rosnita on 22 Mei 2009
at 08:54
C-130.. termasuk seri cargo militer terbanyak digunakan militer dunia.. dan untuk penunjang olahraga terjun payung, pesawat jenis ini katanya paling digemari lho.. bisa 100 orang sekali lompat…wow..
seharusnya pemerintah memikirkan efek kedepan dari sekian banyak musibah pesawat,… masih adakah anak2 yg bisa disebut sebagai penerus bangsa ini.. berkata: “Cita-cita ku mau jadi penerbang” seperti yg pernah terucap dari anak gw…., sebagai ortu berharap sekian tahun kedepan dunia kedirgantaraan Indonesia “Sudah Maju”..
Oleh: Andries Martinus Halim on 22 Mei 2009
at 09:53
trnyata dalam pesawat itu ada 2 org alumni unuversitas ku yg ikut jadi korban….secanggih apapun pesawatnya, sepintar apapun pilotnya….kl sudah sampai ajalnya tidak ada seorangpun yg bisa menghindarinya……tapi teteup aja tulisan pak ihsan ini untuk kesekian kalinya bikin gw merenung…..bagus bngt san…..
Oleh: Asvia Pranova on 22 Mei 2009
at 10:31
All thumbs up!
Jangan lupa minum obat mulesnya pa, hiks
Oleh: G. on 22 Mei 2009
at 11:14
ughh, kami mau ke jkt nih pake pesawat, jd ngga mau baca ttg pesawat jatuh!
)
kalo naik bis/kereta kelamaan ya?!?
Oleh: Reina Loeis on 22 Mei 2009
at 23:52
Seandainya Bung Karno ngga nyindir Presiden Kennedy waktu kunjungan dya ke amerika pada waktu itu,, kita mungkin ga bisa beli hercules,, Ketika itu Presiden Kennedy berterima kasih kepada Presiden Soekarno atas dikembalikannya Allan Pope Intel CIA yg ketangkep kita waktu itu,, dan Soekarno Nyindir,,
“Sebenarnya sih kita membutuhkan pesawat yang besar untuk kebutuhan logistik tentara saya,, saya dengar Pesawat Hercules itu bagus,, kaya apa sih bentuk nya??”
Maka Presiden Kennedy langsung mengajak Soekarno langsung ke pabriknya dan mengijinkan untuk membeli 10 pesawat!!
baru baca kompas tadi pagi hehehe… beritanya ada di kompas!!!
Oleh: Bob Haris Mandela on 22 Mei 2009
at 23:53
((((The Sky is a Vast Place but there is NO room for ERROR)))
Brur/Sis ini slogan gw dapat waktu masih taruna di PLP Curug..sekarang ?? hmm…. sudah expired kali ya??
Prihatin buat korban.
Oleh: Andre Tuwaidan on 22 Mei 2009
at 23:56
pengalaman yg tdk bs di beli oleh uang,selamet HARDIKNAS
Oleh: Nancy Ohara on 24 Mei 2009
at 06:21
Mengutip koran online :
… untuk 2009, anggaran pertahanan menurun menjadi hanya Rp33,6 triliun. Sangat jauh dibanding anggaran yang diajukan TNI yaitu Rp127 triliun.
no wonder kalo sekarang sering ada penumpang sipil di pesawat militer. meningkatkan kesejahteraan memang butuh duit banyak.
Oleh: Ibnu Rizal on 24 Mei 2009
at 06:22
turut beduka cita sedalam2nya atas meninggalnya korban kec pesawat hercules, smoga alm di beri tempat di sisi TUhan YME dan keluaga yg ditinggalikan mendapat kekuatan dan peghiburan dairi TUhan
amin
Oleh: Ruth Liu on 24 Mei 2009
at 06:23
keren om pesennya..
Oleh: Melati Puspa Devi on 24 Mei 2009
at 06:23
kasian bgt ya tentaranya. udah tugasnya berat, gaji kecil, jauh dr keluarga….eeeeh meninggalnya pake pesawat sendiri lagi bukan di medan perang. mudah2an management pemeliharaan pesawat TNI AU tidak disalah gunakan oleh oknum2 yg ingin memperkaya diri sendiri yg akhirnya berakibat fatal bagi para prajurit yang sedang mengemban tugas negara. once again…very deep condolences for the victim.
Oleh: Aria Satyasmara on 24 Mei 2009
at 07:42
Yup, tanamkan pikiran akan keberhasilan bukan kegagalan. Manusia adalah mahluk yang unik dan diberi keistimewaan akal untuk berpikir.
Selamat HARDIKNAS
Oleh: Dede A.M Setiadi on 24 Mei 2009
at 10:06
kasihan tentara AU,kita belum perang saja, sudah cemas karena pesawat angkutnya..
Oleh: Iman Brotoseno on 29 Mei 2009
at 10:57