Oleh: Ihsan Kusasi | 5 Mei 2009

Hardiknas Part-2

Prolog: note gue ini bagian ke-2 dari 3… dalam sequel ke dua ini lebih kepada supporting utama dalam pendididkan… selamat menikmati…

Part 2

2. perpustakaan
Internet yang sedang loe akses saat baca note gue ini bisa jadi adalah jendela 15″ untuk melihat dunia. Ada Google Earth, Wikipedia, Facebook, dan lainnya yang membuat dunia yang luas, informasi yang banyak, dan teman-teman sekolah dulu yang tersebar ke penjuru dunia, menjadi tampak di depan mata.

Sebelum ada internet, kita ingat sebuah istilah: “Buku adalah jendela Dunia”. Gue setuju 100%. Banyak sekali pemimpin-pemimpin dunia menjadi besar dan berhasil, karena mereka disiplin dan rutin dalam membaca buku. Mereka rata-rata memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya.

libraryPendidikan untuk semua yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara dan di-execute dalam bentuk “Perguruan Taman Siswa” tahun 1922, adalah sebuah terobosan untuk sebuah bangsa terjajah dan belum merdeka saat itu. Namun saat ini, dimana pendidikan adalah suatu yang umum di Indonesia yang sudah merdeka, belajar dengan buku pelajaran sekolah tidaklah cukup. Harus ada additive lain: perpustakaan pada setiap sekolah.

Gue terkadang terheran melihat program Pemerintah untuk mengadakan komputer ke sekolah-sekolah. Bukannya gue alergi dengan dunia IT. Gue sendiri selama ini mencari nafkah sebagai konsultan IT. Namun mengadakan perangkat IT ke ratusan sekolah di seluruh Indonesia adalah langkah yang kurang bijak:

a. High cost: tahun 2001 gue mewakili perusahaan tempat dulu bekerja, berhasil memenangkan proyek pengadaan komputer di Departemen Pendidikan Nasional. Berapa nilai proyeknya? Sekitar USD 2 juta! Berapa net profit-nya? Sekitar Rp.500 juta!

Saat gue jalan keluar-masuk kampung terpencil di daerah Jawa Barat, ada sebuah SD sedang dibangun. Dari papan bestek, gue jadi tau bahwa biaya pembangunan per kelas rata-rata Rp.30 juta. Anggap belanja buku perpustakaan Rp.20 juta. Maka total biaya pembangunan sebuah perpustakaan adalah Rp.50 juta per SD. Bayangkan apabila anggaran USD 2 juta dipakai membangun perpustakaan, sekitar 400 SD akan memiliki perpustakaan baru!

b. Learning curve: memakai komputer membutuhkan proses pembelajaran yang tidak mudah. Oke oke… mengadakan komputer di sekolah bertujuan agar rakyat Indonesia tidak gaptek – gagap teknologi. Namun lebih dari itu, membuka wawasan berpikir dengan cara mudah – dengan membaca buku – adalah lebih mendasar dibanding memaksakan teknologi yang tinggi. Apabila tidak dibentuk kebiasaan membaca sejak dini, secanggih apapun komputer yang dipasang di sekolah, semuanya akan berakhir untuk bermain games! Atau chatting!

Itulah perbedaan mendasar antara komputer dan buku perpustakaan. Komputer adalah sebuah alat untuk bisa mengakses informasi termasuk buku-buku bacaan digital. Sedangkan buku perpustakaan adalah informasi itu sendiri yang tinggal dibaca: mata bertemu kalimat, tidak perlu biaya listrik, tidak perlu biaya upgrade setelah 3 tahun.

c. Obsolote period: Komputer memiliki umur rata-rata 3 tahun. Setelah itu sudah obsolote. Basi. Kuno. Jadul. Kok bisa? Ya iya lah. Ini adalah murni sebuah industri. Sebuah bisnis. Kalau komputer dibuat tidak pernah obsolote, maka semua pabrik komputer akan segera tutup begitu produksi pertamanya masuk ke pasar.

Sama seperti manusia, setiap komponen komputer memiliki MTBF – mean time before failure. Kalau manusia, bisa jadi MTBF nya 63 tahun. Hard Disk komputer biasanya memiliki MTBF 3.000 jam dibaca dan ditulis. Selebihnya, mereka akan masuk MPP – masa persiapan pensiun, atau juga mati pelan pelan… hihihi…

3. Guru
Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Gue sebenernya gak begitu paham maksud peribahasa ini. Kenapa harus pakai kosa kata – maaf – “kencing” yang punya konotasi kotor? Apa gak ada padanan kata lain yang lebih enak? Hmm… gue coba ya: Guru mengajar sampai frustasi, yang penting murid berprestasi… hihihi… maksa gak seh…

s_Untitled-6_high_thumbKata “frustasi” bisa jadi memiliki arti ambiguous: karena murid-muridnya pada bandel semua, atau karena status Guru Pegawai Negeri-nya tidak pernah jelas walaupun sudah puluhan tahun mengajar? Tanya kenapa?

Bagaimanapun, sudah saatnya apresiasi terhadap Guru ditingkatkan. Gaji dinaikkan. Tunjangan ditingkatkan. Oh ya… kasih tau gue dong, Guru itu punya asuransi kesehatan gak ya, yang preminya dibayar Pemerintah?

Guru itu… hmm… gue susah menjabarkannya… yang pasti: you are all my hero!

bersambung ke Part-3…

HM Ihsan Kusasi
May 5, 2009


Tanggapan

  1. Hhmm…ada betulnya juga…kelebihan buku dibanding komputer dari aspek daya beli dan learning curve walaupun dari sisi distribusi informasi komputer jauh lebih cepat dan secara konten juga lebih lengkap. Di afrika sekarang sedang ada program one laptop for one kid..mungkin kedepan kalau laptop sudah semurah hp low-end aksesibilitas setiap murid sekolah ke komputer akan jauh lebih cepat cuma tinggal learning proses-nya ini yang jd tugas guru dan ortu jg bagaimana spy komputer gak cuma jd alat entertain semata. nice written essay…good food fot thought

  2. Lha menterinya saja orang bisnis dan politik, jadi yg dikerjakan yg profitable dan electable…..

  3. PENDIDIKAN MURAH UTK RAKYAT!! UU BHP kudu dikritisi jg.

    >>Paperless?? Ya dan tdk, kita tetap langganan korankan?? Penerbitan buku2 di negara maju tetap marak, perpustakaan bertambah megah, skalipun setiap orang sdh punya notebook.Jd simultan aja.. ‘perpustakaan’ tetap jalan (tergantung kebutuhan dan geopolitik daerah yg bersangkutan..buku2 daerah pegunungan beda dgn didaerah pesisir).
    Pd saat yg sama teknologi dgn ITnya, internet dll tetap harus masuk ke daerah2 terpencil.
    Skala prioritas? Lagi2 kondisional.

  4. sebetulnya masalah yg terjadi sekarang ini adalah salah satu ekses/dampak dari adanya desentralisasi pendidikan, dimana urusan pendidikan diserahkan kepada daerah (pendidikan dasar dan menengah), akibatnya terjadi perbedaan perlakuan terhadap dunia pendidikan pada masing-masing daerah yang menyebabkan mutu pendidikan tiap daerah tidak sama. saya berharap urusan pendidikan di tarik kembali menjadi urusan pusat sehingga dunia pendidikan di indonesia mempunyai warna yang sama, baik standar mutu, maupun tingkat kesejahteraan gurunya…

  5. Ditto.

  6. sekarang bagaimana caranya membuat gerakan yang bisa mewujudkan perpustakaan tersebut?

    Karena buku bener-bener gudang ilmu, gudang pengetahuan.

  7. Perpustakaan wajib sebenernya harus ada di setiap kecamatan,,,ini boro2 kecamatan mau ada perpus. terkadang di kabupaten/kota propinsi aja nggak punya perpustakaan daerah selain didalam sekolah/universitas.

  8. kenapa guru yang selalu di persoalkan?
    sampai2 d bilang guru kencing berdiri murid kencing belari… apa pantas menggunakn bahasa seperi itu. kalau guru kencing terbang jadi murid kencing apa donk? sekali lg klau bisa diharapkan stop mnggunakan bahasa yg tidak etis itu. dimana2 guru yg selalu d salahkn kalau mutu pendidikanx menurun. coba kita koreksi bersama, banyak komponen yg bergelut dlm bidang pendidikan bukan semata2 guru saja. sadarlah warga bangsa adanya orang2 hebat di negara kita itu karena datangnya dari guru.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori