Biar kata kau Musibah…
Bagiku kau Anugrah…
Owu.. Oo…
I Love U Bibeh
Cuplikan lagu dari The Cangcuter berjudul I Love U Bibeh ini cukup menggelitik. Nuansa optimis kental sekali. Saat orang lain memiliki penilain negatif, dirinya tetap berpikiran positif. Memang, musibah dan anugrah adalah dua kutub negatif dan positif yang bertolak belakang. Bagai dua muka pada sebuah uang logam.
Iya, bagai uang logam, karena batas musibah dan anugrah sebenarnya tipis sekali. Setipis uang logam tersebut. Walaupun mukanya bertolak belakang dan berpunggung-punggungan, namun orang tua banyak bercerita, “… di balik musibah… ada hikmah [anugrah] yang [akan] terjadi…”
Misalkan cerita tentang seseorang yang sedang mudik. Dia ketinggalan bis AKAP saat break makan cuma karena kelamaan di kamar mandi. Awalnya dia menganggap itu sebuah musibah. Namun begitu dia bisa ikut bis AKAP berikutnya dari perusahaan yang sama, dia dapatkan bis yang seharusnya dia tumpangi mengalami kecelakaan masuk jurang. Awalnya dia menganggap sudah mendapat musibah, ternyata dia mendapatkan anugrah: terhindar dari musibah yang lebih besar. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…
Bagi umat Muslim, mengucapkan Inna lillahi… sudah menjadi suatu yang spontan saat mendengar berita musibah. Ini bukan Doa. Ini semacam self reminder. Artinya kurang lebih: semua diciptakan Tuhan dan akhirnya akan kembali kepada-Nya.
Ada yang menarik. Alkisah, ada seseorang yang baru diangkat menjadi leader sebuah pemerintahan teradil dan terbesar yang pernah ada pada suatu zaman, sekitar 1400 tahun lalu. Saat speech di acara inauguration-nya, Beliau malah mengucapkan Inna lillahi…, bukannya ucapan terima kasih kepada, mungkin, pendukung, sponsor dana, maupun tim suksesnya.
Orang seperti ini paham artinya amanah bagi seorang pemimpin. Saking pahamnya betapa berat tanggungjawab amanah itu, Beliau merasa mendapat musibah di dunia. Apakah Beliau paham juga dibalik musibah ada anugrah? Pasti. Namun anugrah yang diharapkan berada pada dimensi lain. Dimensi yang beliau yakin akan ke sana juga semuanya. Dimensi akhirat.
Apakah Caleg atau Capres melihat suatu jabatan publik sebagai musibah? Atau sebagai anugrah? Gue pikir, tergantung dari mana saat itu dia berpijak. Maksud gue, dimensi apa yang dia sedang sasar sebenarnya. Dimensi dunia atau akhirat? You never know…
Gue dan sekitar 20 teman lainnya, pernah mengalami tidak makan selama 3 hari di dalam hutan. Maksudnya: tidak makan sesuatu yang normal. Kami saat itu memang ditempa untuk berani hidup dengan cukup memakan daun, umbi, dan buah yang tersedia di hutan. Tentu saja tanpa tambahan dressing “Thousand Island”. Kami ditempa bukan untuk berani mati dalam suatu latihan survival dengan sandi Lantap – Latihan Pemantapan. Bisa jadi, saat itu kami menganggap mendapat musibah. Musibah bagi anak-anak muda seusia SMA perkotaan metropolitan yang termanjakan. Well… a memorable thing back to 20 more years ago.

Anugrah apa yang kami dapatkan? Yang kami rasakan? Rasa persaudaraan yang erat. Rasa syukur akan ciptaan Tuhan yang beragam dan bermanfaat. Rasa senang menyadari hutan adalah supermarket makanan terbesar. Rasa menghargai artinya hidup. Rasa cinta kepada negeri Indonesia.
I Love U Bibeh
HM Ihsan Kusasi
Mar 18, 2009
Note ini didedikasikan untuk Trupala SMA6 Jakarta yang berulang tahun ke-34 hari ini. Selamat ulang tahun!
“Kami Ditempa Untuk Berani Hidup, Bukan Untuk Berani Mati.”

Karena gak muat kalo gue upload semua, jadi comment
buat note Ihsan ini gue split jadi beberapa bagian.
Yang berikut adalah Bagian I :
Generally, gue sangat appreciate sama tulisan-tulisan
yang kayak gini. Tapi kok, sepertinya ada yang agak-
agak ganjel di hati setelah membaca dan mendalami
maksud yang terkandung di salah satu bagian tulisan
Ihsan. Atau mungkin karena kedangkalan pengetahuan
atau pemahaman saya mengenai anugrah dan musibah
itu sendiri.
Ada bagian di tulisan itu yang menyebutkan bahwa
seolah-olah seseorang pemimpin yang besar dan hebat
adalah pemimpin yang menganggap bahwa bila
mendapatkan amanah (atau amanah yang lebih besar
dari yang ia miliki sebelumnya) adalah seperti layaknya
ia mendapatkan suatu musibah.
What a contradiction…
Bagian II :
Seandainya kita ditanya bagaimana perasaan kita ketika
dikaruniai hidup (sekalian mengutip motto Trupala :
“Kami ditempa untuk berani hidup, Bukan untuk berani
mati”), kita mungkin akan sulit untuk menjelaskannya
karena kita terkadang tidak bisa menjelaskan tentang
awal kehidupan. Karena awal kehidupan adalah
anugrah. Kita bisa menikmati hidup hingga hari ini ,
hingga detik kita selesai membaca tulisan ini adalah
juga anugrah.
Hidup dengan berbagai pengalaman di dalamnya adalah
anugrah. Susah dan senang, sehat dan sakit sukses dan
gagal, dihukum dan tidak dihukum ‘Tatib’, semuanya
adalah anugrah. Dan setiap pengalaman ini
memperkaya hidup dan pribadi kita. Kita tumbuh
menjadi pribadi yang semakin dewasa dan matang
berkat setiap peristiwa yang kita jalani dari hari ke hari,
dari waktu ke waktu.
Bagian III :
Kembali ke cerita si pemimpin tadi, adalah sangat tidak
bijaksana kalau dengan serta merta si pemimpin itu
menganggap amanah yang ia terima yang seharusnya
adalah anugrah malah dianggap sebagai musibah.
Tanpa kematangan diri seorang pemimpin secara lahir
dan bathin, apakah dengan mengembalikan semua
permasalahan yang ia hadapi sehari-hari kepada Sang
Khalik, terus akan menyelesaikan semua
permasalahannya?
*icon bingung*
look at the bright side……
hmm…
ngebaca essay di atas jadi ingat suatu hal… ini gua
ambil dari sumber lain:
Bagian I:
Kita dalam hidup ini sering menerima dua hal yaitu
anugrah dan musibah, kita akan sangat mengharapkan
selalu mendapat anugrah, karena hal yang sangat
menyenangkan hati, dan dengan mudah kita akan
menyuskuri atas anugerah yang kita terima. Kita akan
merasa hidup ini indah manakala kita menerima
anugrah, dan dengan mudah kita mengucapkan syukur
atas keindahan hidup ini kepada Tuhan.
Bagaimana tatkala kita menerima suatu musibah,
apakah kita masih bisa beryukur….? Adalah sesuatu
yang berat bila kita beryukur saat kita menerima
musibah, yang terjadi kita akan mengeluh, dan merasa
tidak siap atas suatu musibah. Dan kita merasa tuhan
tidak adil saat kita menerima musibah. Tak jarang kita
menyalahkan hidup, menyalahkan Sang Khalik saat kita
menerima musibah.
Bagian II:
Banyak orang yang menjadi sakit menjadi parah,
menjadi stress, karena mereka tidak bisa mensyukuri
saat mereka menerima musibah, sehingga yang jika
dijalani dengan beryukur, mungkin masalahnya akan
terasa lebih mudah, dan ringan. Tapi jika kita tidak
bersyukur saat kita diterima masalah, masalah mungkin
akan bertambah dan membuat kita semakin terpuruk.
Rasa syukur sangat penting karena banyak alasan, rasa
syukur membuat hati dan fikiran anda terbuka
menerima karunia dalam kehidupan, dan selalu
mengingatkan akan semua karunia saat mendapat
anugrah, dan dengan bersyukur anda akan mampu
menghadapi masalah secara proporsional. Karena
setiap masalah pasti ada jalan keluar, dan dibalik
masalah terdapat hikmah yang tersembunyi. Dengan
beryukur kita bisa melihat hikmah saat kita diberi
masalah oleh Tuhan.
Dan dengan bersyukur bisa menjadi alat kontrol diri
kita, kita tidak bersikap berlebihan saat menerima
anugrah dan musibah yang terjadi pada hidup kita. Rasa
syukur merupakan kekuatan yang luar biasa yang bisa
menghilangka dan mengatasi masalah anda dalam
kehidupan kita.
Kehidupan kita akan bahagia atau menderita semua
tergantung pada cara anda memandang dan pikiran
anda, dengan selalu bersyukur anda akan menemukan
apa yang anda cari, jika pikiran anda mencari apa yang
indah dari setiap musibah dan menysukurinya, maka hal
yang indah yang akan anda dapati. Maka Mari kita
mensyukuri kehidupan yang kita jalani, baik saat kita
mendapat musibah atau saat mendapat anugrah.
di dedikasikan u/ laki gw juga kan….kan ultah juga…
makasih ya..
hahaha..dah lama ditunggu akhirnya muncul lagi
tulisannya om ihsan..and masih dengan analogi yang
luar biasa, dan alur yg mengalir dengan jelas….
hebat….
mungkin yang perlu diliat adalah penekanan bahwa
musibah dan anugrah adalah suatu hal yg nggak
mungkin dipisahkan… karena mereka datang secara
bersamaan, dimana dari suatu anugrah yang diterima,
perlu ada keyakinan dasar bahwa anugrah tersebut
bukanlah milik kita semua, akan tetapi sebagian besar
merupakan milik mereka-mereka yg ada dalam proses
sebelum anugrah tersebut kita terima….
dan akan menjadi suatu musibah pada saat kita mulai
melupakan hal tersebut…
begitu juga apabila musibah yang diterima, maka perlu
dilihat bahwa ada anugrah didalamnya, dimana musibah
adalah satu pemberitahuan yang paling mujarab bagi
seseorang untuk melakukan introspeksi terhadap diri
dan mendapatkan pembelajaran yang akan menjadi
bekal untuk langkah selanjutnya….disitulahanugrahnya…
Selamat HUT buat TRUPALA bro…
hubungan dengan kepemimpinan…mungkin adalah
apakah mereka sadar bahwa sejauh mana sebuah
kepemimpinan menjadi anugrah atau musibah, adalah
bahwa status, jabatan, kelebihan materi, serta
kemudahan-kemudahan yang didapatkan sebagai
seorang pemimpin bukanlah sebuah anugrah,
melainkan kepercayaan orang-orang yang memilih
seseorang menjadi pemimpin tersebut yang merupakan
anugrah yang sesungguhnya, dimana bisa menjadi
musibah pada saat kepercayaan tersebut tidak menjadi
dasar utama dalam menjalankan fungsi
kepemimpinannya….
karena biasa..kepercayaan diberikan dengan harapan
dibaliknya, dan wujud utama harapan tersebut biasanya
adalah doa…..
itulah yg perlu disadari seorang pemimpin …bahwa
yang kekuatan utama yang membuat dia terpilih adalahdoa dari orang-orang ygn percaya kepadanya…..
BY the way..nenteng do’a satu orang aja susah..apa lagi
nenteng do’a orang segambreng…..mendingan nenteng
belanja’an kali……happy birthday trupala…
Selamat Ulang Tahun Trupala…
gw masih inget tuh san waktu lantap, kepala gw
kejatuhan batu waktu kita kena banjir di tebing pinggir
sungai. Lumayan bedarh dikit… selamat Ultah TRUPALA
Bossss,
Ini potongan dari The Prophet by Gibran:
Is not the cup that hold your wine the very cup that was
burned in the potter’s oven?
And is not the lute that soothes your spirit, the very
wood that was hollowed with knives?
When you are joyous, look deep into your heart and you
shall find it is only that which has given you sorrow that
is giving you joy.
When you are sorrowful look again in your heart, and
you shall see that in truth you are weeping for that
which has been your delight.
Some of you say, “Joy is greater than sorrow,” and
others say, “Nay, sorrow is the greater.”
But I say unto you, they are inseparable.
Together they come, and when one sits alone with you
at your board, remember that the other is asleep upon
your bed.
Happy birthday dear trupala….
Gue jadi inget…waktu gue meluncur n jatuh di cisadane
(Orad)..tadinya menurut…gue itu..musibah, gimana
nggak kala itu…gue ampir mati tenggelam. Tapii….itu
jadi Anugrah bagi gue..karena saat itu gue jd belajar
berenang…..dan akhirnya jadi pelaut handal. Daun..dan
Onje adalah Anugrah, so.. jatuh di gua Jenggung-
Pacitan adalah musibah,… Apapun yg terjadi TRUPALA
tetep dihatiku..Maju Terus Trupala…dan SELAMAT
ULANG TAHUN TRUPALA. Tapi…ngomong 2x kok
kemaren nggak dateng ….sich..???
Kalau bicara Tuhan,..tidak ada musibah yg dibaliknya
adalah anugrah, tapi bicara anugrah tanpa melibatkan
DIA,..perspektif manusia labil,…
Thanks for tagging me!
The parts I like the most are
I. “Iya, bagai uang logam, karena batas musibah dan
anugrah sebenarnya tipis sekali. Setipis uang logam
tersebut. Walaupun mukanya bertolak belakang dan
berpunggung-punggungan, namun orang tua banyak
bercerita, “… di balik musibah… ada hikmah [anugrah]
yang [akan] terjadi…”
Very true!! 17 belas tahun jauh dari ortu, keluarga,
teman teman dan negara tempat kelahiran. Salah satu
hal yang bikin gue kuat mental adalah dengan selalu
percaya bahwa dibalik musibah ada hikmah!
“If I were asked to give what I consider the single most
useful bit of advice for all humanity, it would be this:
Expect trouble as an inevitable part of life, and when it
comes, hold your head high. Look it squarely in the eye,
and say, “I will be bigger than you. You cannot defeatme”. – Ann Landers
II. TRUPALA!…..”Anugrah apa yang kami dapatkan? Yang
kami rasakan? Rasa persaudaraan yang erat. Rasa
syukur akan ciptaan Tuhan yang beragam dan
bermanfaat. Rasa senang menyadari hutan adalah
supermarket makanan terbesar. Rasa menghargai
artinya hidup. Rasa cinta kepada negeri Indonesia.”
HAPPY BIRTHDAY TRUPALA AND THANK YOU!!!
HAPPY BIRTHDAY TRUPALA!!!
ps : wahyu, foto2nya mana? hehehe…
Bagus ‘san tulisannya terlepas dari pro & kontra yg ada
…dan kayaknya emang punya bakat elo!
Selamat ulang tahun dan jaya selalu Trupala! Gw yakin
hampir 90% dari seluruh anggota yg pernah merasakan
“musibah & anugrah” (*minjam istilahnya Ihsan) selama
di Trupala akan setuju kalau semua itu sangatlah besar
peranannya dalam membentuk karakter diri!
Selamat Ultah untuk TRUPALA ya kang……sukses selalu
Tulisannya oke, cuman korelasi dengan cangcutersmasih kurang sreg deh menurut gue lohh Bos.
Musibah adalah musibah, bukan untuk dinikmati tapi
adalah proses pembelajaran yang harus dilewati
siapapun untuk terus hidup dan naik ke level berikut,
suka atau terpaksa. Life is about learning and the
process of learning involved hard times. Another good
one boss. Bravo.
sebenernya yang membuat definisi anugerah dan
musibah itu kan manusia…kalau Dia berkehendak siapa
yang dapat menolak….itulah yang dinamakan
takdir…….hidup hanya sekali gak perlu ada yang
disesali….cukup bersyukur ….Alhamdulilllah…….
Selamat HUT buat TRUPALA..
Tulisannya bagus Ihsan..
Mengingatkan saya untuk selalu bersyukur kepada Maha
Pencipta.
Thanks Ihsan. Be grateful
kalo musibah dateng biasanya suka lupa tuh kalo
dibaliknya ada suatu hikmah yang tersembunyi..terus
kalo kita didas di hutan*pendidikan dasar..entah istilah
lantap itu diganti tahun berapa*trus suruh makan
daun,umbi2..itu kayaknya bukan musibah deeh
Oom..kan namanya juga pendidikan..jadi kita udah
tauu..gitu
btw..fotonya keren:)
ikutan bangga deh aku hehe..sayang aku ga ikut ke
aceh..
lalu lalu..TRUPALA kelanjutannya gimana ni para Om
dan Tante?any idea?
Pengalaman gue sih San di saat kita lagi dapet ujian
berat dari atas…coba aja iklhlas ngejalaninnya (
walaupun berat kadang untuk 100% ikhlas..80% aja
udah baguslah he he ) dengan demikian hikmah dari
kondisi buruk itu akan berbuah nikmat ( diganjar ama
Tuhan dalam bentuk lain – balik modal deh ) ketimbang
udah susah di uji eh ente gelap mata..yang ada nambah
kisruh..runyam..hikmahnya jadi celaka deh…Salam
Pramuka dulu ahh….
Kalau merugikan kita sebut musibah, kalau
menguntungkan kita sebut anugerah. Bisa jadi musibah
orang lain anugerah untuk kita dan sebaliknya.
Tanpa label ‘diuntungkan’ atau ‘dirugikan’, atau label2
ego lainnya, maka hal2 tsb sekedar fakta. Spt kita
nonton berita di TV, kita bisa rasakan emosinya tanpa
perlu ego kita tertohok atau melakukan labeling.
Dgn ‘label management’
maka kita punya pilihan
apakah sesuatu kejadian sebaiknya diberi label sangat
positif, positif atau kurang positif (karena yg negatif itu
sebetulnya adalah nilai yg lebih rendah dari standar nolpositif kita saat itu).
San, dulu waktu masih jamannya di SMA, jujur aja gue
tuh yang namanya sebeeel…sama anak-anak Trupala…
waktu itu gue cuma melihat luarnya aja kali ya…anak-
anak Trupala identik dengan kegiatan “tak bergune”…
Lain dulu..lain sekarang… setelah masuk kuliah… gue
mainnya malah sama anak-anak Mapala dan ikutan
kegiatannya… terus punya suami pun dari Mapala….Ini
yang namanya cnta… benci tapi rindu tipis
bedanya….hahaha…. Apalagi kalo liat dedikasi Trupala
terhadap lingkungannya…saluutt… Met Ultah Trupala,
sukses dan semangat terus!
Happy Birthday Trupala.. and San, being grateful and
amanah is the important things in life…as our
responsibility to Allah swt.
San…Ive been there a lot….!!! Up til now….
Saking a lot nya…gw cm bisa pasrah…mo nangis kdg jg
dah ga bisa… Gw cm yakin Dia sayang gw…
kalimat innalillahi wa innailaihi rojiuun adalah
pernyataan kepasrahan kita pada Allah dan
mengembalikan semua urusan pada Allah. Bukan harus
dihubungkan dengan musibah, tapi bisa juga
menunjukkan kebutuhannya akan pertolongan Allah
terhadap amanah yang diberikan. karena barang siapa
meminta amanah maka tidak adak pertolongan Allah
baginya, amanah itu diberi bukan diminta…
nah sistem politik kita sekarang bertolak belakang dari
itu semua… kalo ada waktu sila klik situs berikut..
http://www.facebook.com/profile.php?
id=1246383455&ref=name#/note.php?note_id=55707108770
ahh speechless gw kalo mo ngomong soal Trupala hehe
btw, spt biasa tulisannya komplit (menggugah, memberi
inspirasi, etc) … dan sedikit memprovokasi hehehehe
(utk mendorong ke hal2 yg baik lohh)
happy birthday Trupala….San spt biasa tulisan lu
nendang bgt terutama yg ini
Assw San…gw ikutan ya bro.Musibah vs anugrah pasti
kita smua akan hadapin sirih berganti. Sekarang gimana
kita menghadapi dan menyikapinya.
manusia yg dihuni oleh nafsu kadang selalu terbuai oleh
anugrah yg diberikanNYa. Memang semua kembali
kepada kekuatan iman kita.Duniawi penuh dengan
rayuan2 setan yg menggoda.gw akuin banget itu.
Anugrah yg indah saat kelahiran sorang anak membuat
hidup berubah 180 derajad.
Tapi ditinggal oleh orang yg kita cintai memank its not
easy 2 face it bro. kakak kandung yg jg teman sejati dr
kecil belum 30 hr telah dipanggil oleh allah.Sampai skrg
gw masih berasa ganjil. thinks its seems different
now.mind set jg berubah 180 deajad.Dimata tuhan kita
memank kecil.
Proses terus jalan dan yakin kedepan anugrah2 dan
musibah2 akan hadir .Mungkin pondasinya sepertinya
always greatfull dgn apa yg sudah diberikanNYA dan
Ikhlas akan Musibah yg tlh dan akan datang..Wasaalam
bro.nice weakend yak
dua2nya ujian tuk kita..susahnya nyiapin mental saat
menerimanya..pe+keimanan pastinya.. tmsk
trupala..saat ini sdgn menghadapi dua2 nya…
saatnya berani hadapi kematian dengan persiapan yang
matang & cara yg sesuai perintahNya..
Happy B’day Trupala
Mau masuk Trupala adalah musibah yg cukup besar
buat gue saat itu, mahluk kecil dgn berat kurang dari
40kg hrs menghadapi cobaan yg cukup berat… Tetapi…
Menjadi Trupala… bagi gue merupakan anugrah besar
yg bisa gue rasakan manfaatnya saat ini…
Selamat Ulang Tahun Trupala… Semoga kebersamaan
tetap menjadikanmu berada didalam diri tiap manusia
Trupala…
HIDUP TRUPALA…!
Tulisan lo bagus San, memang bisa menuai kontroversi,
tergantung dari sudut mana kita memandangnya, tapi
intinya hidup ini adalah cobaan, belum ada hasil
akhirnya. jadi yaa…selalu berprasangka baik lah kepada
ALLAH SWT.
Sukses San.
Bener sprt kata Dewi.C anugrah & musibah ibaratnya
seperti dua sisi mata uang logam,tergantung sisi mana
yg mau kita pilih dan kita tetapkan sebagai anugrah
atau musibah.
Krn pada dasarnya seperti kehidupan manusia itu
sendiri dimana kita ingin menetapkan posisi & keadaan
diri kita sekarang,apabila kita kaya raya apakah kita
merasa kekayaan itu musibah atau anugrah begitu pula
sebaliknya bila kehidupan kita miskin.
Caleg yg merasa apabila dia terpilih menjadi anggota
dewan yg terhormat bahwa dirinnya mendapat musibah
sy rasa hanya segelintir saja yg akan merasa seperti
itu,karena untuk jabatan trsbt dia mencalonkan diri
kemudian baru dipilih oleh rakyat. Laen halnya kalo org
yg tidak mencalonkan apa2 untuk suatu jabatan namun
kemudian dipilih untuk menduduki jabatan tersebut
kemungkinan besar org tsbt bisa merasakan bhw
jabatannya trsbt sbh musibah bagi dirinya.
Seperti kita sekolah dulu kalo pas milih ketua kelas,kalo
gw jbtn ketua kelas adlh musibah he…he…he….
jika engkau bersyurkur pada nikmat-Nya niscaya dia
akan menambahkan ,tapi jika engkau mengingkarnya
sesungguhnya azab Dia sangatlah pedih…….
Hidup Trupala!
Tulisan2nya keren2…jgn lupa kata2 “LEARNING BY
DOING” jg bgs tuh untuk menempuh hidup kita…
Hidup trus bwat TR’!!!
Slmet HUT “TRUPALA” !!!
happy b’day TRUPALA!!
HIDUP TRUPALA!!
Hidup Trupala
ivva trupala ^^v
kalo direnungi jadi serem juga ya..
musibah dan anugrah bagai uang logam..
dua-duanya selalu berdampingan
berarti:
1. mengharapkan anugrah = sama saja mengharapkan
musibah yang akan menunggu di belakangnya..
2. mengharapkan musibah lebih dahulu untuk
menunggu anugrah yg akan datang..
sama saja gk mungkin siapa yg mengharapkan/ bahkan
mau dpt musibah..
3. jadi point ke-1 dan 2 = gk mungkin = salah
tapi kalo gk salah dulu ada ujar2
kalo poit 123 salah,
bos/ senior gak pernah salah atau pasti betul ..
cape dee kalo begitu,
yah.., tapi itulah kurang lebih gambaran hidup..
kadang2 gk masuk akal.. dan gk akan habis2 kalo
direnungi,
jadi kesimpulan gue
jalani saja hidup.. dan siapkan mental untuk hadapi
semua yg akan ditemui nanti..
karena “Kami Ditempa Untuk Berani Hidup, Bukan Untuk
Berani Mati.”
selamat ultah trupala..
Met ultah TRUPALA
KAMI DITEMPA UNTUK BERANI HIDUP BUKAN BERANI
MATI!!!!
hidup trupala !
mudah-mudahan bisa bergabung lagi menjadi ekskul di
sma 6 yang kita cintai
mantap om.
Salaam semuanya..
Numpang lewat nih… di salah satu comment ada nama Dewi Connor, apa benar dia Nirmala Dewi (kakak dari Ambar Wulan) yang dulu pada tahun 1993 dst, bersekolah di Brisbane Australia.
Kalo memang bener, saya ingin menyambung tali silaturahmi .
Salaam
Trupala pancen Ok!! Sy sdh saksikan & buktikan.
[...] Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Namun terkadang mahluk-Nya kurang sabar untuk memetik hikmah dari peristiwa [...]
PenciptaanNya selalu simetris(seimbang dan berpasangan) ada siang ada malam ada hitam ada putih jd setiap ada musibah ada hikmah yg didapat tinggal kitanya aja menyikapi dr sisi positip atau negatif. Pak Ihsan sy gak kenal bapak tp sy suka membaca tulisan2 bapak sy byk mengambil pelajaran dr tulisan2 tsb sy berdomisili di bandar lampung sbg pengelola hotel Andalas Permai tulisan bapak byk menjadi masukan bg sy mengambil hikamah dr tulisan: kanibal, keluarga Toyota dll trimasih byk pak Ihsan salam
Pak Ihsan sy penggemar tulisan bapak sudah lama lho tau tulisan bapak sbetulnya gak sengaja di intenet di goole “motivasi diri” skarang malah ngikutin teru ulasan bpk sy tunggu lg ulasan yg lainnya gak coba mengangkat tulisan prahara “Mesuji” di Lampung pak kenapa bs terjadi sperti itu ,kl ke lampung mampir ke Andalas Permai ya pak hotel kecil tp alhamdulliahramai pengunjungnya bernuansa Islami dan kekeluargaan. Thanks tulisan2 pak Ihsan sy suka