Prolog: note ini adalah sequel dari note Byarr Pet gue sebelumnya, namun dalam dimensi dan point of view yang berbeda. Selamat menikmati…
Meningkatnya frekuensi “byarr pet” oleh PLN beberapa bulan ini, membuahkan banyak kekesalan pelanggannya. Hampir tidak ada pembicaraan sesama teman, kecuali diawali dengan pertanyaan “apakah rumah loe mati listrik tadi malam?” Bahkan seorang kawan facebook yang merespon note Byarr Pet gue, yang kebetulan tinggal di Balikpapan, sudah pada taraf kebal atau mati rasa atas pelayanan PLN di kota salah satu penghasil minyak terbesar di negeri ini. Hebat ya? Kok bisa? Balikpapan geto lho… hihihi…
Tiada guna mencari kesalahan PLN, karena sudah jelas memang salah. Tiada guna pula membuang energi marah-marah, kecuali lewat facebook… hihihi… Akan lebih baik bagi kita meresapi, apa hikmah di balik fenomena “byarr pet” ini. Iya, apa hikmah di balik kegelapan yang ditawarkan PLN?
Dua minggu lalu, seorang teman mengundang gue. Hari Sabtu jam sebelas malam. Berarti malam Minggu. Gue sangat antusias, karena dia mengundang gue ke “dunia gelap”. Hmm… adrenaline pumped! Tapi, tunggu dulu…
Istilah “byarr pet” sudah melekat kepada pelayanan PLN khususnya saat listrik yang disalurkan mati secara tiba-tiba. Walaupun istilah ini tidak terdapat dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, namun masyarakat sudah akrab dan apabila ada orang yang melontarkannya dalam percakapan sehari-hari, langsung ber-asosiasi negatif kepada PLN (Perusahaan Listrik Negara). Gue sarankan agar PLN segera mem-paten-kan istilah “byarr pet” ini, sebelum negara Malaysia mengklaim sebagai istilah milik mereka… hihihi….
Istilah Miyabi, akhirnya bergeser kepada hal negatif. Padahal, arti dasar Miyabi adalah suatu keindahan, estetika, atau citarasa. Seseorang dengan kemampuan “miyabi” sanggup memberikan kesenangan atas suatu keindahan, baik dalam bentuk yang simple maupun yang detail. Miyabi, adalah bentuk kesempurnaan paduan antara bentuk dan warna. Seperti lukisan seseorang dari Jepang di samping ini.