Oleh: Ihsan Kusasi | 4 Desember 2009

Jakmania

Bagi warga Jakarta, Jakmania adalah sebuah “kebanggaan” sekaligus sesuatu yang “menyebalkan”. Iya, Jakmania adalah supporter kesebelasan PERSIJA milik Kota Jakarta. Kebanggan karena begitu banyak dan kompak para supporter PERSIJA ini, dengan seragam dan atribut mereka yang berwarna oranye.

Mereka sangat kompak saat sebuah pertandingan sepakbola kesebelasan PERSIJA berlangsung. Mereka tanpa dikomando akan datang ke lapangan sepakbola memberi dukungan. Mereka masih muda. Mereka energik. Mereka semua oranye.

Menyebalkan karena mereka membuat macet Jakarta. Tidak valid juga apabila mereka disalahkan, karena tanpa adanya Jakmania pun, Jakarta tetap selalu macet! Tapi macet total-closed-loop-locked selama 3 jam malam Minggu kemarin saat pertandingan sepakbola PERSIJA di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, adalah sebuah fenomenal.

Fenomena sosial yang menarik diamati. Fenomena Jakarta. Fenomena Jakmania.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Ihsan Kusasi | 27 November 2009

Freez

Suasana hari Ied, baik Iedul Fitri maupun Iedul Adha, selalu membuat gue termenung atas sebuah penampakkan. Suatu yang terus menerus menghantui pikiran gue sejak kecil usia SD. Suatu penampakkan setiap pagi saat Takbir Ied masih bersahut-sahutan. Saat langkah-langkah kecil dari setiap pintu rumah berkumpul menyatu menjadi ratusan langkah menuju lapangan luas untuk melaksanakan Shalat Ied.

Suatu penampakkan yang selalu kasat mata: semua daun pepohonan menjadi “freez”, tidak bergerak sama sekali!

Iya. Bertahun-tahun gue takjub atas penampakkan ini. Takjub atas bagaimana disiplinnya angin berkolaborasi dengan daun pepohonan, menampakkan sikap “freez”. Disiplin dua mahluk dalam menunjukkan sikap patuh kepada Tuhan yang telah menciptakan mereka. Khusus setiap pagi pada hari Ied, seperti hari ini.

Sikap patuh ini yang selayaknya kita teladani. Berbeda dengan manusia, mahluk lain seperti angin, daun, air, atau tanah, akan selalu mematuhi perintah Tuhan tanpa “reserved”. Saat air laut mendapat perintah untuk menyapu sebuah kota dengan mission code “tsunami”, air laut tidak pernah berdebat “bagaimana nasib penduduk kota nantinya?”. Begitu pula untuk mission code lainnya seperti: “earthquake” untuk tanah, ataupun “banjir bandang” untuk air. Mereka jalankan itu tanpa pernah membantah.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Ihsan Kusasi | 16 November 2009

2012

2012Film terbaru Hollywood “2012″ sangat fenomenal dari sisi antusias penonton. Sampai note ini gue tulis, penonton selalu kehabisan tiket, padahal beberapa bioskop menayangkan sekaligus pada 2 studionya. Bahkan sebuah bioskop di mall daerah Senayan sampai 4 studionya paralel menayangkan film “2012″.

Ada apa dengan tahun 2012? Pemilu Presiden dipercepat…? hihihi… Sebenarnya, gue sendiri belum nonton film “2012″. Tapi dari beberapa artikel di koran maupun sekilas gue baca buku tentang 2012, inti dari film tersebut adalah mengenai “hari kiamat”.

Gue gak bisa kasih komentar tentang film “2012″ ini dari sisi sinematografi, skenario, maupun karakter tokoh-tokoh di dalam film. Karena selain memang belum nonton, gue memang gak tertarik untuk nonton film tersebut. Kecuali mungkin gue ingin tau behind the scene atau the making of 2012, wabil khusus mengenai special effect gambar di dalam film saat kehancuran jalan-jalan layang, gedung-gedung tinggi, atau bumi secara keseluruhan.

Alasan gue gak tertarik nonton “2012″ adalah simple: “hari kiamat” adalah hak prerogatif Tuhan Yang Maha Kuasa. Gak ada alasan — satu alasan pun — ciptaan Tuhan bernama “manusia” bisa menentukan kapan dan bagaimana itu kiamat akan terjadi. Yang pasti, itu akan terjadi!

Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori